HIJRAHKU BELUM SEMPURNA

HIJRAHKU BELUM SEMPURNA
Prolog

“lari woy,” teriakku sambil merangkul kresek berisikan uang.

“gak salah nih nyolong tu doay nenek rempong?” tukas sigit mengejarku.
“ahh biar aja! Tuh nenek gak bisa ngejar bray,!” teriakkan kak bastian mengikuti langkah kami.
“lah terus ngapain kita lari kalo tuh nenek Hu huh.. gak bisa .. ngejar ..!” ucap sigit terengah-engah.
“ya gak papa kali, supaya keliatan kayak maling beneran aja, ya pan kak?”balasku menyenggol tangan kak bastian.
“elah lu gin, ya udah.. gua jalan aja ya! Gua pan bukan maling,” sigit mulai berjalan santai sambil memegangi pinggangnya.
 Kami mengikuti geraknya.
“sakit pala gua vroh! Belum lagi bunda gua sakit di rumah. Balikin aja deh tu doy nenek kampret!” sambungnya lagi setelah ia menemukan tempat untuk beristirahat.
“iya sih, tapi kan kita belum bayar tu tanah? Papa gamau ngasih doay! Ahh susaahh!” teriak kak bastian.
“Oke! Besok kita cari kerjaan yang bisa di kerjain anak umur kita! Ngamen kek apa kek! Yang penting halal! Gak kayak gini! Sampah!” tukasku menengahi. Aku tak ingin ada perkelahian lagi diantara kita.

“Oh oke! Besok!” ujar sigit tersenyum puas.


1.        Kesalahan fatal
“Gin, bisa kesini gak?” aku baru saja mengangkat telpon dari temanku Satya. “nape emangnya?, malam apa sih nih? “ aku menjawabnya dengan ketus. Apa boleh buat, karena Satya dan anggota memaksa, aku segera bergegas pergi. Ku pakai pakaian terbaikku. Baju kaos hitam dengan gambar lidah terjulur.  Jemper hitam dengan bahan kulit, dan celana jeans yang sengaja ku robek  di bagian lututnya.
“gina mau kemana? Ngeluyur gak jelas lagi pasti! Insaf lu gin. Udah SMA masih kayak gini. Kapan berubahnya?”omel kakakku yang paling cerewet sedunia. Kak Diana. “apasih kak, tunggu hidayah aja lah! Aku berangkat ! jangan bilang-bilang ke papa ya! Kunci cadangan rumah aku bawa!”  aku terkekeh sendiri dalam hati. Mana mungkin hidayah itu datang saat aku sibuk-sibuknya tawuran.  Aku gunakan motor kesayanganku satria fu biru.
“beh cepet amat lu gin? “ lontar bajri’. Nama lengkapnya bajriana safi’i kelas 11 IPS di sekolahku. Perawakannya lumayan menakutkan. Dengan bekas luka di pipi,  semua yang melihatnya belum tentu berani namun tidak denganku. Melihat bekas lukanya teringat ketika ia ingin masuk kedalam anggota kami, ia rela melukai pipinya sendiri. Lelaki pemberani.  Disebelah bajri’ sudah berdiri sejak tadi Seno. Nama lengkapnya Seno Mahmud. Kelas 12 IPA, entah apa yang membuat ketua kami memilih seno menjadi asistennya. Kata menyeramkan jauh dari dirinya. Badannya kurus tinggi. Dengan kulit putih dan kecerdasan otaknya.
Nama ketua kami sigit topang. Kami satu kelas. 11 IPA SMA N 1 bandung. Kami mulai membuat keanggotaan ini sejak kelas 7. Banyak kenakalan yang telah kami lakukan. Dari mencuri di kantin sekolah, sampai tawuran di taman kota. Kami beranggotakan 18 orang. Entah dari sekolah mana saja. Kami mulai terkenal ketika kami membantu polisi menangkap komplotan narkoba yang pelakunya memang musuh kami. Walau kami banyak melakukan kenakalan namun untuk Narkoba, tidak akan kami sentuh walau sekeping atau sesuntik. Pernah sekali kami mendapati anggota kami yang telah kecanduan narkoba dan kami tidak seganmembawanya pada polisi langsung. Tak ada kata maaf untuknya.
“ada apaan emang si? Gua lagi males loh ini!”  aku meraih satu botol wiski. Lalu ku hempaskan ke lantai. Airnya bertumpahan kemana-mana.
 “aih, kambuh lagi penyakit lu gin! Mahal itu ! “ ujar seno memungut beling yang tersisa. “mana yang lainnya mas? Males aku! Di panggil tiba-tiba terus gada apa- apa juga!” aku mengomeli semua orang.
“itu nah kawan kau satya! Perempuan macam apa sih dia? “ lontar bajri’ meneguk minumannya. “emang Cuma aku yang perempuan disini? kenapa dia?” aku merasa ada yang kurang beres. “sigit si topang itu pacaran sama dia! Baru sehari! Ketauan lah dia gak perawan ! mana mau si topang kampret tu!” amuk bajri’. Aneh Mengapa bajri’ yang terlihat kacau.
 “napa lu yang marah sih jri’? namanya juga perempuan. Susah !” lontarku mengacak-acak rambutnya.
Aku tau sejak SD kelas 6 satya sudah kehilangan itu. Entah apa permasalahannya.  Nama lengkapnya Satya Ferolita kelas 11 IPS di sekolah yang sama denganku.
“sudah gin, gak usah dengerin kata-kata bajri’ dari tadi emang dia ngomel begitu!” ujar seno.
“iya mas, mana satya? Mana sigit?”  aku mencari-cari kedalam ruangan-ruangan. Ternyata mereka sudah terduduk di ujung kasur. Terlihat satya yang sedang menangis sesegukan di ujung kasur sebelah kiri. Begitu pula sigit di ujung kasur sebelah kanan.
“Satya? .. “ perlahan aku mendekatinya dan memeluknya.
“sudah! Jangan nangis mulu! Kamu gak pernah kayak gini sebelumnya kan?” aku meraba-raba rambut panjangnya. Ia hanya mengangguk dan menghapus-hapusi air matanya yang belum bisa berhenti. Aku mengajaknya keluar dari kamar dan seno bersedia membawanya pulang. Kasihan sekali dia.
“Sigit ..!” jeritku pada sigit yang tengah duduk di singgasananya. Aku menarik kerahnya ingin memukulnya sekeras mungkin. Namun ia menyentuh tanganku. melihat wajah kacaunya, aku teringat ketika aku mengajaknya menjadi anggotaku dulu. Saat kelas 7 ia sempat menjadi bahan bully-an teman-teman. Namun, berkat persahabatan kami, semua orang memandang kami berbeda. Aku ingat kenakalan pertama kami ketika membantu senior kami yang terbully, Senior kami  Mas Seno. karena kami membantunya, terpaksa kami mengakhiri permasalahan dengan perkelahian dua lawan dua. Dan kamilah pemenangnya.  Sejak saat itulah, satu persatu orang-orang mulai mengenal kami ‘dua serantai’. Ya mungkin diibaratkan kami sekuat rantai.

“sial kamu git ! buat aku gini aja terus!” aku melepas kerah bajunya. Ia tersenyum puas.
 “aku pulang!” ucapku meraih jaket dan helm. Entah mengapa rasanya percuma untuk menunggui sigit di sini. 
“Gina tunggu! “.
“Apalagi ? kamu niatin pacaran atau niat yang lain sih? Niatmu gak bagus git! Apa bedanya dia gak virgin sama virgin? Cinta mu gak tulus kalo kayak gitu!” lontarku pas di depan wajahnya. Lagi-lagi ia melihatku dengan mata bulatnya yang lembut.
“ Maafin aku gin! Aku Cuma capek nunggu kamu nerima aku. “ jawabnya. Kami terdiam sejenak. Entah apa yang ada di pikiran kami masing-masing. Tak ada yang bisa aku bicarakan. Air mataku menetesdengan sendirinya. Sengaja ku palingkan badanku, agar aku tak terlihat sedang menangis. Aku tau ia sudah menyukaiku sejak kelas 8. Namun aku tau benar apa yang aku butuhkan dan yang tidak penting bagiku. Pada faktanya aku membutuhkan sahabat bukan pacar.
“iya! Mulai sekarang kamu gak perlu nunggu aku kok! Jalani aja sama satya, dia anaknya baik, virgin bukan masalah untuk seseorang mencintai,” ucapku. aku kembali berjalan menuju motor. kubawa motorku sekencang-kencang mungkin. Entah mengapa kata-kata sigit tadi terkesan memaksaku menerimanya. Aku tak mau pacaran.
“AKU BENCI SIGITTT, AKU GAK MAU PACARAN!!!!!” Teriakku di jalan. Air mataku terus mengalir. Tak terlihat lagi ekspresi orang yang memandangku. Aku tidak peduli apapun sekarang.

bersambung

"SEMENIT DALAM BENAKKU"

Jangan menungguku. Bagiku, terutama akhir-akhir ini, tidak ada menit yang ter(lalu) lama bagiku. Jadwalku penuh.
Terserah bila kamu mau menuduhku 'sok sibuk'. Aku bukannya mau menghindar. Hidupku bukan melulu tentangmu.
"Kenapa kamu tidak membalas WA-ku, sih?"
"Kenapa susah sekali menelepon kamu akhir-akhir ini? Kamu tidak pernah menjawabnya. Kalau pun iya, jawabnya lama sekali."
"Kamu nggak pernah ada lagi waktu untukku."
Di saat-saat seperti itulah, sesak kembali melandaku. Entah kenapa, akhir-akhir ini asmaku kambuh. Di mata benakku, kata-katamu berubah menjadi dinding-dinding beton besar yang mengepungku.
Aku tersiksa.
Semua gara-gara tuntutanmu. Makan malam terlama, setiap menitnya setara dengan sejam. Kamu bicara dan terus bicara, sementara aku hanya diminta duduk, diam, dan mendengarkan saja. Ingin kubantah, namun kamu malah marah. Katamu, istri yang baik harus selalu menuruti semua permintaan suami - tanpa terkecuali.
Ah, kemana dialog kita yang dua arah itu? Kemana kamu yang dulu?
Untung kita belum menikah. Wajah aslimu membuatku takut, tak hanya ragu. Terlalu cepat kau tunjukkan, tapi jujur - aku lega. Kurasa aku harus berterima kasih pada Tuhan sebelum akhirnya menjatuhkan keputusan.
Kubiarkan ponselku terus bergetar halus di atas meja. Aku tahu, WA terakhir dariku pasti membuatmu marah. Kamu sekarang tahu rasanya tidak didengarkan. Keputusanku sudah bulat.
Maaf, jangan samakan aku dengan para perempuan Stepford, yang harus selalu tampak cantik sempurna, dengan senyum itu di wajah mereka - sembari menuruti setiap keinginanmu tanpa henti dan tanpa membantah, minimal mempertanyakan alasannya. Aku manusia yang juga punya kebutuhan yang sama. Sabar bukan hanya kewajiban satu orang saja. Tak adil bila hanya searah.
Aku juga butuh teman-teman. Jangan harap aku sudi duduk-duduk di rumah, hanya menunggumu saja. Merentangkan tiap menit dalam sisa hidupku, hanya untuk memperlakukanmu ibarat pusat semesta. Benarkah agama sekejam itu sama perempuan? Aku sungguh tidak percaya.
Cinta? Harusnya kau bukan sipir dan aku bukan napi dalam penjara. Bukankah kita manusia yang hidup menghirup udara yang sama?
R.
(Jakarta, 26 Februari 2016. Ditulis untuk "The Couchsurfing Writers' Club Gathering" dengan tema "Semenit Terlama". Terinspirasi juga dari lagu Sara Bareilles berjudul "King of Anything".)

Memori Kita



Tempat itu. Iya, aku menunggunya di tempat itu. Tempat dimana aku bersama dia saling memadu kasih dulu dan menjadi tempat favorit kala itu. Tempat yang sarat akan kenangan-kenanganku bersama dirinya. Baik duka, suka, tawa dan tangis. Tempat itu istimewa bagiku. Pemandangan seluruh kota terlihat dari tempat itu. Hamparan rumah penduduk dan gedung-gedung tinggi menjadi pemandangan yang indah bagiku dan menjadi lebih indah ketika malam hari.
Ada kesalahan di dalam gadget ini