Es Krim Hujan -- Fania Veronica


            Mungkin kalian pernah melihatnya. Seorang cowok yang terang-terangan menunjukkan rasa suka kepada cewek yang ditaksirnya. Masa tidak jadi masalah. Selalu saja ada cowok yang tidak tahu malu seperti itu. Ada satu di kelasku. Sialnya, akulah cewek malang yang ditaksirnya.
            Sebut saja aku ge-er, tapi aku seratus persen yakin kalau Leo naksir kepadaku. Dua tahun berturut-turut aku sekelas dengannya, gelagatnya kepadaku seperti orang PDKT saja. Mencoba mengobrol denganku, meminjam barangku, merayuku dengan rayuan gombal, ikut-ikutan menyukai hal yang kusuka. Oh, dude, you obviously like me. Tapi aku tidak. Aku tidak menyukai Leo. Bukan benci juga. Aku hanya tidak mau dekat-dekat dengannya.

Payung Merah Maroon



Ku temukan sebuah foto usang di laci meja belajarku. Ku analisa baik-baik foto yang saat ini ku genggam, tapi aku masih lupa tanggal kapan tepatnya foto ini ku potret. Namun, sosok lugu dengan suasana hujan di foto itu mengingatkan ku kembali akan peristiwa bebarapa waktu  yang lalu.
***
            Langit tampak begitu kelam, disusul dengan hembusan angin yang kian menyergap tubuhku, seolah memberi isyarat bahwa sebentar lagi butiran hujan akan jatuh membasahi bumi. Dan ternyata benar, butiran hujan mulai menyentuh kulit ku, hingga membuat gerak langkah ku semakin cepat. Aku tiba di dalam kopaja dengan pakaian sedikit basah, namun kedua bola mataku langsung tertuju ke arah bangku kosong yang hanya tersisa satu-satunya di angkutan umum tersebut, dan dengan segera aku pun menuju ke arah bangku tersebut. Seiring dengan hujan yang kian deras, orang-orang pun juga kian memadati kopaja tersebut, hingga membuat suasananya semakin riuh. Suara mesin mobil bersamaan dengan obrolan para penumpang mulai terdengar beradu dengan derasnya hujan. Tiga puluh menit waktu berlalu, dan aku sudah hampir tiba di tempat tujuan ku yaitu toko buku, namun ku lihat di balik jendela rupanya sang hujan masih terlihat murka.
            kiri bang “ ujar ku nyaring sambil beranjak berdiri
            Suara nyaring yang kumiliki ternyata cukup ampuh untuk mengheningkan suasana bingar di kopaja tersebut, hingga dengan cepat kopaja itu pun langsung berhenti. Dengan sigap aku pun membuka payung yang ku bawa saat hendak turun. Payung tersebut memiliki ukuran yang cukup besar, memang sedikit repot saat membukanya ketika hendak turun, dan mungkin itulah alasan mengapa beberapa penumpang di kopaja tersebut mendadak menatapku.
             Usai aku turun dari angkutan berwarna putih hijau tersebut, aku langsung berjalan sambil tetap berpayungan. Sejenak ku hentikan langkahku di depan halte bus, disitu aku menunggu untuk beberapa saat sampai hujannya reda. Ku tutup payung berwarna merah maroon yang kumiliki dan ku sandarkan payung tersebut di bangku halte, dan selang beberapa menit kemudian tiba-tiba saja sesosok makhluk tuhan di sebrang jalan tertangkap oleh indra penglihatanku, terlihat dia sedang hilir mudik memayungi orang-orang. Jelas sekali tubuhnya kecil dan juga kurus, pakaian yang dikenakannya pun kelonggaran, hingga terlihat hampir menutupi tubuhnya yang mungil,  bahkan dia pun juga tidak memakai alas kaki saat menawarkan jasanya ke orang-orang, dan sosok yang kulihat itu pun juga memiliki payung yang ukurannya cukup besar, mirip seperti punyaku, hanya saja payungnya berwarna hijau tua sedangkan milik ku berwarna merah maroon. Sesaat setelah aku memperhatikannya dari kejauhan, kembali ku tatap langit untuk memastikan bahwa langit tak lagi mendung, dan ternyata benar langit kembali ceria seperti yang ku inginkan, tanpa berfikir panjang aku pun langsung bergegas pergi dari halte tersebut dan langsung menuju ke toko buku, namun saat aku sudah berada di depan pintu toko buku tersebut, entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tertinggal. Sejenak ku perhatikan diriku.
“ astagfirullah.. payungku !! “
            Aku tersadar bahwa payung pemberian nenek ku tertinggal di halte tempat aku berteduh tadi. Dengan sangat terpaksa aku pun harus kembali ke halte tersebut untuk mengambil payung ku. Namun sial, sesampainya aku disana ternyata payung tersebut sudah tidak ada, justru yang ku temukan adalah payung berwarna hijau tua. Dengan raut wajah yang kecewa, aku pun duduk termenung di bangku halte, sambil meratapi payung ku yang hilang bagai ditelan bumi. Sebenarnya kalau saja itu bukan payung pemberian almarhum nenek ku, mungkin aku tak akan sesedih ini, namun sayangnya payung berwarna merah maroon itu adalah kado terakhir dari nenek ku sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir. Bagiku, kehilangan payung tersebut sama saja seperti kehilangan sosok nenek untuk kedua kalinya.
            Ku layangkan mata ku ke langit, terlihat gumpalan awan hitam mulai mengintai dan menyelimuti langit, alam seakan ikut bersedih karena melihat diriku yang sangat terpukul. Tetes demi tetes air mulai menghujami segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini, dan hanya dalam beberapa hitungan detik hujan seakan menampakkan arogansinya, dengan guyuran hujan yang amat deras. Ah.. rinai hujan basahi bumi lagi, dan bersamaan dengan hujan yang kian deras, ternyata butiran air lambat laun  juga mulai mengalir dari kedua bola mata ku. Perlahan ku hapus air mata ku, namun tanpa sengaja mataku kembali tertuju ke arah sebrang jalan. Terlihat sosok lugu yang tadi kulihat saat payungku belum hilang masih kesana kemari memayungi orang-orang yang kehujanan. Jujur, batinku terasa tersayat ketika melihat sosoknya yang harus berjuang untuk mengais rezeki di tengah guyuran hujan yang semakin kejam. Tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ganjil dengan payung miliknya, karena semakin ku perhatikan payungnya, semakin mirip dengan payung milik ku, tapi penglihatan ku tidak begitu jelas karena hujan semakin deras, lalu terfikir olehku untuk memotretnya untuk memastikan bahwa benar payungnya berwarna merah maroon. Ku perbesar foto yang sudah ku ambil tadi, lalu kuamati warna payungnya, dan ternyata benar payung yang ia genggam berwarna merah maroon, sontak saja aku pun langsung berlari ke sebrang jalan untuk mengejarnya. Hujan masih belum berhenti menunjukkan keperrkasaanya, namun aku tak perduli, aku terus berlari mengejarnya, tapi sosoknya yang ku cari tak kutemukan. Aku sedikit lelah dan tubuhku juga basah kuyup, akhirnya dengan wajah yang kecewa aku pun mencari tempat berteduh, ku pilh halte tadi sebagai tempat berteduh ku, namun sasampainya di halte tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang datang menghampiriku
“ Payungnya kak..” sapanya dengan ramah
            Aku sangat terkejut melihat sosok yang ku cari ternyata sudah berdiri persis di hadapanku. Terlihat dengan jelas payung yang ia tawarkan adalah payung pemberian nenek ku, dan tanpa basa basi aku pun merampas payung  tersebut dari genggamannya.
“ Hei.. kamu tau tidak payung berwarna merah maroon yang kamu bawa itu adalah payung milik ku, oh..ya aku tau pasti kamu mencuri payung ini dari halte disana kan? “ jawab ku dengan sangat ketus
Memang sih.. aku sempat ke halte tersebut untuk berteduh, tapi aku tidak mencurinya, lagipula payung ini berwarna hiaju tua !!
“ Kamu buta ya, jelas-jelas payung ini berwrna merah maroon !!
“ Tidak, payung ini berwarna hijau tua  !!   ujarnya dengan tegas
Aku heran mengapa bocah ini mengatakan bahwa payung tersebut berwarna hijau tua, padahal jelas-jelas berwarna merah maroon “ ucap ku dalam hati
            Dan tiba-tiba saja seorang gadis manis berprofesi sama dengannya datang menghampiri ku.
“ Maaf kak, ini ada apa? Kok aku lihat dari sebrang jalan sana, dari tadi kakak sedang berdebat tentang payung ini “ tanyanya padaku
Jadi begini, payung berwarna merah maroon ini adalah payung milik aku, tapi dia mengatakan baahwa payung ini berwarna hijau tua miliknya, padahal jelas sekali warna payung ini merah maroon “ ujar aku menjelaskan
“ Oh begitu ya kak, ehm..sini deh kak aku bisikin sesuatu ”
            Lalu gadis itu pun membisikan sesuatu ke telinga ku, dan dengan suara yang pelan dia menjelaskan bahwa temannya itu buta warna. Setelah mendengar pernyataan tersebut, tiba-tiba saja rasa sesal datang mengusik batin ku. Hatiku semakin teriris karena sudah terlanjur menuduh bocah itu sebagai pencuri payung merah maroon ku, terlebih lagi aku harus melihat kenyataan bahwa anak-anak yang berprofesi sebagai ojek payung seperti mereka terpaksa harus kehilangan masa kecilnya demi bertahan hidup di Ibukota ini.
“ Ehm.. kakak minta maaf ya, karena telah menuduh kamu sebagai pencuri “ ujar aku dengan mata berkaca-kaca
“ Ya kak aku maafin kok “ ujarnya dengan wajah ceria
***
Litha.. kamu sedang apa di dalam? Bisa keluar sebentar tidak untuk bantu mamah?”
“ Oh.. iya mah sebentar “ ujar aku sambil menaruh kembali foto usang tersebut ku ke laci meja belajar ku.

"Puisi Tak berjudul"


Hari itu 'kan datang lagi,
Meleburkan rasa dalam kisah yang seharusnya menyeka dera,
Warna-warni bunga luruh ke tanah,
Terukir… Terlukis…
Menyeka tetes-tetes hujan yang mengiringinya,
Akh, apa artinya...?
Tak mampu ku maknai  jua hingga detik ini,
Hari itu, esok 'kan datang,
Menyapaku dan membawaku dalam melodinya,
Hari itu, ya Hari itu...!
Yang kutemui hanyalah angin yang tak ku tahu kemana arahnya,
Yang kutemui hanyalah lolongan perih,
Semuanya kugenggam erat dalam hatiku,
Hari cerah itu kini menjadi kelam,
Hari cerah itu kini menjadi kelabu,
Terbungkus resahnya pagi mengiringi kepergian Mama,
Entah kemana harus dikemanakan rasa sakit ini,
Tak ada lagi kata,
Bahkan tangisku kini tak dapat melukiskan pedih ini,
Mama…
Mengapa harus Mama...?
Gubuk ini jadi demikian hening,
Tak bergeming,
Tak ada lagi tawa renyah disana,
Tak ada lagi peluk dan cium,
Yang tersisa hanya kebisuan yang membatu...
Aku benci langit,
Aku benci karang,
Aku benci laut,
Aku benci semua yang merebut Mama dari sisi ku,
Bibir boleh berucap rela,
Tapi hatiku sakit untuk mengakuinya,
Terbersit tanya dalam benakku,
Tuhan jahat padaku...!
Mengapa harus Mama...?
Adakah yang dapat menjawabnya untukku...?
MAAF...!
Apa pun jawabmu tak akan ku sambut,
Mungkin kehilangan ini 'kan mencabikku,
Tapi apa peduliku...?
Kini...
Aku memiliki kehilangan setelah kehilangan itu kumiliki...!
Selamat Jalan Mama,
Mama Terkuat didunia Kami,
Tinggallah Aku mengais asa di tengah gejolak,
Mengukir asa pada garis-garis kehidupan,
Ini untukmu Mama,
Ini puisi… 
Puisi Tak Berjudul…

Lagu Seporsi Rasa

Lirik Lagu Seporsi Rasa

Ini kisahku Seporsi Rasa
Kisah kasihku di Kedai Cinta
Aku dan dia berbagi kisah
Kisah kasih yang kuungkapkan

Seporsi Rasa kisah cintaku
Cinta semangkuk es kacang merah
Berbagai rasa bersatu padu
Memadukan kisah cintaku dan dia

I love you... kuungkapkan cintaku
I love you too.. kumendengar jawabnya
Ini kisahku Seporsi Rasa
Kisah cintaku Seporsi Rasa

see on youtube https://www.youtube.com/watch?v=_xEakahDCRQ

Seporsi Rasa di RRI Pro 1

Pradita Seti Rahayu (editor), Yunita, Selly Miarani, Yudi (penyiar)

Sabtu, 3 January 2015 pertama kalinya Seporsi Rasa siaran di RRI Pro 1 Cakrawala Pustaka. Kalau kata Mas Yudi (penyiar) Seporsi Rasa merupakan buku pertama yang dipromosikan di Cakrawala Pustaka. Hehehe *jadi tersajung*

Foto Ulang Tahun Cerita Penulis

Yunita, Dwi Agustina, Rinay Nurullah, Anisyah, Selly Miarani
saat merayakan ulang tahun Komunitas Cerita Penulis ke-1 di Mall Citraland Jakarta

Awalnya, Cerita Penulis hanya berkomunikasi via media sosial seperti blog ini, twitter @cerita_penulis, FB Komunitas Cerita Penulis, Fanpage, grup dllnya. Tapi seiring berjalannya waktu kami memutuskan untuk berkumpul bersama. Dan, pada Sabtu, 30 Agustus 2014 lalu kami berkumpul di salah satu foodcourt Mall Citraland. Sekaligus merayakan ulang tahun Cerita Penulis yang ke-1 (18 Juli 2013)

Qiera, Soul In The Sword



Qiera, Soul In The Sword

2
Keranjang Makanan, Obat, dan Keselamatan

 “Hai Tago, mengapa kalian tutup sepagi ini? Apakah kakek Han sakit?” Tanya seorang gadis dengan nada yang lembut. Dia adalah penjaga kedai makanan yang ada di seberang rumah tempa mereka.
Pada saat itu memang masih sangat dini untuk menutup rumah tempa karena jarum jam belum menunjukan jam istirahat makan siang.
          “Tidak, kakek Han sehat saja” “dia hanya butuh bantuan dengan pompa tuanya yang sudah macet itu” jelas Tago berbohong dengan sedikit guyonannya.
          “Oo.. kalau begitu tunggu sebentar akan kuambilkan sesuatu untuk kalian berdua” dengan terburu-buru gadis itu masuk ke kedainya. Tak beberapa lama dia sudah membawa keranjang dengan ditutup serbet kotak – kotak merah. cukup banyak makanan yang ditaruh didalamnya.
          “Ini untuk makan siang, kuharap cukup untuk kalian berdua” ucap gadis itu sambil memberikan keranjang penuh makanan. Terlihat dari pipinya yang memerah saat memberikan keranjang kepada Tago, gadis ini sepertinya terkena sihir wajah Tago yang mempesona itu.
          “Wah, sepertinya ini terlalu banyak untuk kami, terima kasih”
          “Maaf, aku harus buru-buru, kakek tua butuh bantuanku, sekali lagi terima kasih Demy” kata Tago sambil bergegas  meninggalkan gadis itu menuju lantai bawah menemui kakek Han.
Tanpa menurunkan kedua lengannya gadis itu seketika terpatung setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari Tago. Ucapan yang sangat manis menurut gadis yang diketahui bernama Demy itu, yang selama ini hanya bisa memberi makan siang dan melihat pangerannya itu dari seberang jalan lewat jendela kedainya.

JADI KONTRIBUTOR

Happy Birthday Cerita Penulis.... 
Wah, gak kerasa udah satu tahun ya. Yup, 18 July 2014 tepat satu tahun komunitas ini dibentuk.

Di hari yang berbahagia ini, mimin memutuskan untuk mengijinkan kamu memosting sendiri karya kamu di BLOG ini. Kenapa? Ya, karena blog ini punya kalian juga secara postingannya kebanyakan karya-karya kalian juga. heheheh
Karena itu, tepat hari ini, mimin resmi membuka BLOG ini. Eh, maksudnya gimana nih?

Gini-gini.... Kamu bisa posting langsung di sini sebagai penulis. Enak kan? 
Sekaligus ngebantu mimin juga yg suka lama mostingin karya kamu. Harap maklum ya, miminnya cuman dikit, tapi kerjaan banyak, belum lagi ada yg kuliah, ada yg kerja. LOH, kok jadi curhat. heheheh

Balik lagi ke postingan kamu, gimana caranya? Gampang banget. Tinggal ikutin instruksi dari mimin di bawah ini. Simak ya :)

Pertama-tama, mimin akan mengundang kamu untuk jadi kontributor di BLOG Cerita Penulis. Cek email kamu ya :) Nanti akan muncul seperti gambar di bawah ini. Kamu tinggal klik Terima Undangan



Nah setelah itu, akan muncul di layar kamu, seperti gambar di bawah ini. Tinggal klik MASUK aja ya :)




Nantinya, nama kamu akan muncul di sini sebagai penulis. Contoh Selly Miarani(nama kamu)


Dan kamu langsung bisa posting karya kamu di BLOG CERITA PENULIS
Ingat untuk mematuhi syarat dan ketentuannya ya. Baca dulu ya SYARAT dan KETENTUAN

Syarat Tambahan yang perlu diperhatikan

  1. Kamu tidak boleh menyimpan postingan kamu, alias menaruhnya di draf. Bila ingin posting, langsung saja posting. Tapi ingat, jika kamu sudah posting dan ingin memosting lagi, tunggu sampai ada 5 postingan dari penulis lainnya, baru kamu bisa posting kembali.
  2. Setelah posting, harap mention di twitter @cerita_penulis berikut hastaq karya kamu setelah kamu memostingkan karya kamu. 
contohnya seperti ini ya
Ingat menyertakan hastaq judul cerpen kamu, link postingan cerpen kamu dan juga cc ke @cerita_penulis Ini berguna tuk mimin promote karya kamu di hari-hari berikutnya. 
NOTE : Jika kamu tidak menerima email di inbox, cek spam kamu ya, mungkin nyasar di sana. Jika belum juga, tinggalkan komentar di sini dan sertakan nama email kamu. Nanti mimin akan kirimkan.

Nah, buat kamu yg belum memosting karyanya di sini, jangan kuatir. Kamu juga bisa ikut berpartisipasi. Sertakan email kamu di sini ya.

Dan jangan lupa baca SYARAT dan KETENTUANNYA

Mimin harap kita dapat bekerja sama dengan baik. Salam penulis :)

Cinta itu..


cinta itu bukan tentang raga yang saling berpeluk,
bukan pula tentang rindu yang selalu terucap.
cinta itu tentang kamu.

cinta itu bukan tentang jarak yang terekam,
bukan pula tentang kata yang terangkai.
cinta itu tentang kamu.

cinta itu bukan tentang hembus nafas yang menyatu,
bukan pula tentang jemari yang saling menggenggam.
cinta itu tentang kamu.

cinta itu tentang kamu.
cinta itu tentang aku,
cinta itu tentang kamu, aku,.
yang setiap waktu memikirkan tentang kita.

cinta itu marah yang tenang,
cinta itu egois yang berbicara,
cinta itu tentang kita.