"KISAH PENDEK BURUNG KECIL"

Aku bersyukur bertemu denganmu, Riri. Kamu anak yang baik sekali. Adikmu, Andi, juga baik.
Aku tidak ingat penyebabnya waktu itu. Yang kutahu, ada rasa perih di salah satu sayap mungilku. Luka ini membuatku lelah, semakin lama semakin lemas.
Maka, aku pun perlahan terbang rendah, sebelum akhirnya mendarat - atau lebih tepatnya - terjatuh di atas dedaunan empuk. Waktu itu aku sudah pasrah, siap jadi santapan kucing atau predator lain di taman itu.
"Eh, lihat itu!" Mendadak kudengar suara nyaring anak manusia. "Kak Lili, ada bulung jatuh. Kasian, deh. Sayapnya bedalah!"
Tubuh mungilku sudah lelah. Kurasakan sepasang tangan mengangkatku dengan hati-hati sekali, seakan-akan takut meremukkanku. Kesadaranku berkurang, meski lamat-lamat masih bisa kudengar suara anak manusia kedua - kali ini lebih halus:
"Kita bawa ke dalam, yuk. Terus kita obati."
--- // ---
Ternyata aku diselamatkan oleh dua anak manusia. Dari pembicaraan mereka, kutahu mereka kakak-beradik dan masih kecil sekali. Yang perempuan bernama Riri, yang lelaki bernama Andi. Dengan bantuan manusia perempuan dewasa yang mereka panggil Mbak Yem, mereka mengobati sayapku dengan cairan merah yang terasa agak pedih. Aku hanya sedikit mencicit kesakitan, namun Riri berusaha membujukku sambil mengelus kepalaku dengan jemarinya:
"Tidak apa-apa, Burung Kecil," katanya. "Biar cepat sembuh..."
Oh, ya. Aku juga diberi makan berupa biji-biji jagung dan minum air. Aku tinggal di atas lantai yang dingin, dalam kandang buatan mereka yang kata Mbak Yem sebenarnya tudung saji dari plastik...
--- // ---
Keesokan harinya, sayapku sembuh. Tak hanya itu, ternyata masih ada dua manusia dewasa lainnya di rumah itu - laki-laki dan perempuan. Riri dan Andi memanggil mereka Papa dan Mama. Papa dan Mama membujuk Riri dan Andi agar membiarkanku pergi.
"Burung terbang bebas di angkasa, jadi harus dilepas," begitu kata mereka. Meski Andi tampak sedih, namun Riri mengerti. Berdua mereka membawaku ke taman dan melepasku pergi.
"Terbanglah, Burung Kecil," kata Riri sambil tersenyum. "Kapan-kapan main ke sini lagi, ya."
Tentu saja. Aku tak mungkin melupakan kalian, penyelamatku. Jangan menangis, Andi. Aku akan kembali.
Sesuai janjiku, keesokan harinya aku melesat ke dapur mereka lewat jendela yang terbuka. Aku kembali bertengger di tempat yang sama. Tentu saja, Andi menyambutku gembira.
"Kak Lili, bulungnya datang lagi!"
--- // ---
Hari-hariku bersama Riri dan Andi terasa begitu indah. Mereka tertawa-tawa saat bergantian mengelusku dan memberiku biji-biji jagung.
Hingga siang itu...
Oh, tidak! pikirku ketakutan. Apa yang dilakukan anak-anak itu?
Saat hendak terbang ke rumah Riri dan Andi seperti biasa, sekelompok anak lelaki yang tampak lebih besar dan kasar mengejarku dari bawah. Di tangan mereka terdapat ketapel dan batu.
Insting memaksaku untuk terbang secepat mungkin, menjauhi mereka. Namun, batu pertama melayang menghantamku...
--- // ---
"HUAAA, KENAPAAA?!"
Tangis Riri dan Andi siang itu pecah seketika. Mbak Yem, yang menemukan tubuhku yang terjatuh di taman, berusaha membujuk dan menghibur mereka. Sia-sia. Keduanya masih menangis keras, bahkan saat menguburku di taman. Riri tak henti-hentinya meratap.
"Jahat! Dasar anak-anak jahat! Aku pukul mereka nanti! Jahat! Huhuhuhu..."
"Sssh, sudah... sudah... ," bujuk Mbak Yem, yang juga tampak sedih. Sesedih hatiku yang melihat semuanya...
--- // ---
Aku bersyukur bertemu denganmu, Riri. Kamu anak yang baik sekali. Adikmu, Andi, juga baik.
Kalian jangan bersedih. Meski kebersamaan kita begitu singkat, kebaikan kalian akan selalu kukenang...
R.
(Jakarta, 2 Juli 2015 - saat pertemuan Klub Menulis Couchsurfing di Food Court Pasar Festival - mulai pukul 20:00. Tema: "binatang peliharaan".)

Lomba Ide Kreatif 6 - 22 Juli 2015

Ngaku kreatif?

Buktiin dengan ikutan nyumbang ide judul  “CeritaBerantai” di blognya cerita penulis.
Caranya, baca Cerita Berantai di blog Cerita Penulis. Temukan judul yang sesuai,  lalu tulis usulan judul kamu di kolom postingan ini mulai 6 – 22 Juli 2015. Sertakan alasan kamu kenapa memilih judul tersebut. (Setiap peserta hanya boleh menyumbang satu judul saja)

Syarat ikutan lomba, 

[Cerita berantai] Part 8



Ramadhan kali ini rasanya memang berbeda. Hanya satu hal yang masih tetap sama dan semoga akan selalu begini, itulah perhatian yang diberikan Denis pada Aul. Ia tau, mungkin saat ini Denislah yang ia butuhkan. Ayah?
ah, ayah tak lagi bisa mengerti perasaannya kini. Ayah hanya ingin dimengerti tanpa ingin memahami bahwa kini hati Aulia terluka.

Bukan hanya tentang cinta yang tak secuilpun singgah dihatinya untuk perempuan yang dinikahi ayahnya, ia juga merasa hidupnya hanya sekadar menjalani takdir Tuhan.

" oh God... gue gak tau kenapa Ramadhan kali ini rasanya sangat sepi. Ibu....Wardah! harusnya gue bisa sedikit aja bersikap baik sama perempuan itu, tapi sampai detik ini rasanya sakit banget mengingat semua janji yang udah ayah buat.
Ayah.... kenapa si ayah tega bohoongin Aul, ayah bilang gak akan nikah lagi. Ayah bilang ayah sangat sayang sama ibu tapi kenapa sekarang ayah justru memutuskan memilih perempuan itu untuk menggantikan posisi ibu yah?? Aul gak bisa terima kenyataan ini yah... Andai ayah tau gimana terlukanya Aul sejak ayah memutuskan untuk melanjutkan hidup bersama dengan perempuan itu." selintas pikiran menjadi sangat melankolis.

" heiii!!!! bengong aja lu. kenapa si neng? cerita dong sama gue kalau ada masalah. Gak banget deh kalau lu jadi pendiam tiba-tiba gini." ucap Denis yang sedari tadi memperhatikan Aulia.

" eh... Pig, gue gapapa kok. Hem.... kayanya gue cuma lagi gak enak badan deh. Abis ini gue balik duluan ya." tepisnya pada Denis
" beneran lu gapapa cat? ya udah nanti gue anterin lu pulang ya?."

" ehh gak usah, gue bisa pulang sendiri, beneran deh. Gue masih kuat jalan kali Pig. gak usah hina gue deh.. hahahaha"

" ya udah deh yang ngerasa kuat, gue bisa apa kalau lu udah bilang gitu. hahahha."

---
" Maaf ya pig karena gue belum bisa jujur untuk saat ini sama lu. Gue gak mau ngebebanin lu dengan urusan pribadi gue yang...huf... gue bisa handle ini sendiri. Gue hanya butuh waktu buat berpikir jernih". ucap Aulia dalam hati.

Meski dalam keramaian acara di Resto, pikirannya mash terganggu dengan suasana yang akan ia temui saat di rumah nanti. Ia memang mengatakan ingin pulang lebih dulu tapi pulang ke mana? Rumah baginya kini bukan lagi seperti surga dan tempat paling nyaman, kini rumah menjadi satu-satunya tempat yang jika bisa tak ingin rasanya berlama-lama ada di dalam sana. "Surga adalah ibu dan ibu adalah surga", apa yang sebenarnya ingin disampaikan Arven waktu itu. Apa maksudnya dengan menulisan memo seperti itu?
...

Jam menunjukkan pukul 21.22 waktu Indonesia bagian barat dan Aulia belum juga tiba di rumah.
“ Mah..... Aul kemana kok jam segini belum pulang?”, tanya ayah pada perempuan itu.
“ Mamah gak tau yah, Aul tadi gak bilang apa apa saat mamah tanya. Mana Aul dari semalam belum makan lagi yah. Mamah gak berani telepon Aul, dia pasti masih marah sama Mamah yah”
“ Duh anak itu, kenapa jadi seperti ini sikapnya!” seru ayah. “Ya sudah biar ayah yang telepon Aulia.”, lanjutnya.


Di bawah terang lampu jalan, Aulia berjalan dengan langkah gontai menuju rumah. Tempat yang sebenarnya tak ingin ia masukki tapi ia juga tak bisa membiarkan ayah menantinya terlalu lama terlebih ia tak bisa lagi menghubungi ayah sejak jam 18.00 tadi karena Hpnya lowbat dan powerbank yang ia miliki juga lupa di charge. Berjalan menelusuri jalan komplek rumahnya di jam segini membawa perasaan yang cukup damai. Angin berhembus dengan lembutnya dan udara terasa bagai menyelimuti badan. Aulia bersyukur, setidaknya ia masih bisa menikmati malam yang sejuk dan damai ini sendirian tanpa ada Arven si rusuh itu! 

November Promise

Sudah dua kali november ku lewati dan Ken tak kunjung datang. Apakah aku harus menyerah atau tetap setia menunggu? Entahlah, aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tiga tahun yang lalu di taman ini Ken berjanji akan menemuiku di november berikutnya, tapi sampai detik ini, tak sedikit pun aku mendapat kabar darinya. Dan sekarang oktober akan segera berganti ke november, harapan ku masih tetap sama. Ken kembali menemuiku.
.....

"BERMALAM DI TEMPAT SERAM"

“Gue udah daftar. Tinggal tunggu panggilan.”
            “Hah, becanda lo?!”
            “Gue kepepet, Nes. Udah dua bulan nunggak tagihan kos.”
            Kedua mahasiswi tahun pertama itu bertukar pandang malam itu. Kebetulan kafe kampus lagi sepi, jadi keduanya bisa mengobrol dengan leluasa.
            Nessa menatap Rere yang tampak galau. Agak kesal, gadis mungil berwajah manis itu berkacak-pinggang. Ekspresinya sekarang tampak galak.
            “Berapa?”
            Rere memandangnya dengan tatapan kosong. Sahabatnya pun makin galak.
            “Rere!”
            “Hampir satu setengah juta...untuk dua bulan.”
            Nessa melongo karena kaget. “Elo ‘kan bisa pinjem duit gue dulu!”

[Cerita Berantai] Part 7


Kehadiran Desi kembali di sisi Aulia untuk sekarang ini tidak merubah rasa kebencian pada Ibu Tiri. Bahkan Aulia tak pernah menganggap perempuan yang beberapa bulan belakangan ini dinikahi oleh Ayahnya sebagai pengganti Ibunya. Tidak, Aulia tak pernah beranggapan bahwa wanita itu adalah pengganti Ibunya. Sampai kapanpun.
Tidak ada wanita manapun yang bias menggantikan nyokap gue. Gak ada. Apalagi wanita murah itu, sampai kapanpun, sebaik apapun dia terhadap gue. Gue nggak pernah mengganggapnya ibu tiri. Gak pernah.
                **
                Selepas Denis pergi berpamitan. Aulia masuk ke dalam rumah tanpa salam. Seperti biasa, Aulia selalu memiliki hawa dan perasaan risih setiap kali menginjakkan kaki di rumahnya sendiri. Tentu saja, tidak lain dan tidak bukan karena sebab adanya wanita baru yang sama sekali tidak dia sukai.
“Kamu sudah pulang, Aulia?” Tanya wanita paruh baya yang paling dia benci sedunia.
“Udah. Gak usah sok peduli!” ketus Aulia. Dia berlalu sambil melemparkan senyum sinisnya.

Bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Aulia? Sudah berbagai cara kulakukan, Gusti. Apakah aku salah menikahi Ayahnya. Apakah aku harus bertahan terus dengan sikapnya yang begitu membenciku? Sungguh aku tidak kuat dengan semua ini. Bukankah tidak semua Ibu tiri jahat? Sadarkan Aulia, Gusti.

Hari ini, Aulia memutuskan buka puasa di rumah. Hitung-hitung dia masih menghormati Ayahnya. Meski pun hatinya masih sakit karena merasa dikhianati. Buka puasa pun rasanya tidak enak. Bayangkan saja, Aulia, Ibu tiri dan Ayahnya saling diam. Tidak ada percakapan yang terjadi sebelum buka puasa tiba. Setelah buka puasa selesai, Ibu tirinya, Wardah, menanyakan bagaimana kuliah Aulia hari ini. Tetapi nihil, seperti biasa, Aulia meninggalkan pertanyaannya tanpa jawaban. Saat sampai di depan pintu kamarnya yang tak jauh dari ruang makan. Ayah memanggil Aulia dengan sedikit keras.
“Aulia!”
“Seharusnya kamu bisa sopan dengan Ibumu, bukan pergi begitu saja saat ditanya. Apa ayah dan ibu tidak mengajarimu sopan santun?”
“Yah! Gak usah bawa-bawa sopan santun. Ini semua gara-gara Ayah. Kalau saja Ayah gak nikahin Wardah, aku gak bakal kaya gini! Gak bakal! Jadi jangan pernah ngarepin Aulia buat ngasih hormat sama wanita itu! Dan ingat Aulia gak bakal ngakuin dia Ibu Aulia. Gak akan!
**
Perdebatan semalam membuat Aulia tidak makan sahur. Bagi Aulia makan sahur atau pun tidak sama saja. Rasanya tidak enak. Semenjak ada wanita bernama Wardah semua karakter dan sifat baik Aulia luruh dan tak tersisa, kecuali di depan teman-temannya saja.
Sekitar pukul setengah tujuh pagi Aulia pergi ke kampus. Jarak rumah dan kampusnya tidak begitu jauh. Hanya butuh lima belas menit saja jika ditempuh dengan angkutan umum. Hari ini Aulia dan beberapa temannya mengadakan acara workshop hijab seperti tahun-tahun sebelumnya. Bedanya, untuk tahun ini Aulia menjadi panitia acara tersebut. Selama acara berlangsung, rupanya tanpa disadari oleh Aulia, dua laki-laki yang sedang bersemayam di hati Aulia secara sembunyi-sembunyi melihat Aulia yang sedang memandu acara tersebut. Ada perasaan bangga menyelimuti hati Denis. Begitu juga hati Arven. Namun, Arven tidak mengikuti Aulia sampai acara tersebut usai. Tidak dengan Denis. Denis menunggui Aulia sampai acara selesai.
Pukul lima sore, acara tersebut selesai. Para panitia pun juga selesai merapikan tempat acara tersebut. Dan memilih untuk pulang.
“Hai” Sapa Aulia pada Denis yang sudah menunggu di depan gerbang kampus.
“Sori ya lama. Tadi beres-beres dulu” lanjut Aulia.
“Gak apa-apa kok. Santai cat” Denis melebarkan senyumnya.
“yuk kita pergi ke resto yang biasa aku dan teman-temanku ya” Ajak Aulia.
Mereka berdua saling berjalan beriringan. Resto kesukaan Aulia memang letaknya tak jauh dari kampus dan bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki.
Cat, ternyata lo masih seperti yang dulu. Gue kangen sama lo Cat. Gue takut kehilangan lo Cat. Gue sayang sama lo. Moga gue bisa nyatain perasaan gue ke lo di nanti, di hari yang udah tepat.

[Cerita Berantai] Part 6

      Setelah melepas rasa haus dan lapar, Aulia kembali melanjutkan perjalanan pulang. Langkahnya kosong. Kedua tangannya dikepal, sesekali memukul bagian dada dan kepala.

“ah gila gila...!! am i crazy?”. Kecepatan langkahnya menurun perlahan. “jangan, jangan, jangan! Berhenti! Please, berhenti”. Langkahnya terhenti. Kali ini kedua tangannya berada di tengah bagian dada, berusaha untuk menghilangkan hal yang mengganggu. “ini cuma perasaan kaget sama sikap arven ke gue. Come on Aulia! ini bukan perasaan yang lain. Ini cuma perasaan kaget. Iya, kaget. Kontrol au, kontrol”. Aulia menghela nafas sangat dalam. “gue gak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan”. Wanita dengan nama lengkap Aulia Bina Hiralto ini meneruskan langkahnya sambil membawa perasaan yang mengganggu itu.

“Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu. Terkagum pada pandangmu caramu melihat dunia....” Lagu raisa terdengar dari handphone Aulia menandakan ada panggilan masuk. Dengan perasaan yang tidak mood, Aulia mengambil handphone dari tasnya dan....

“Halo”, suara Aulia terdengar pelan.

“jam segini knp msh di luar?”, lelaki dengan suara bass ini menyapa Aulia dengan pertanyaan.

“lo bokap gue?”, suara Aulia mulai sedikit meninggi.

“bukan”, pemilik suara bass ini menjawab dengan sedikit tertawa.

“trus urusanya sama lo apa?”, Aulia merespon dengan mempertahankan nada suara yang sama. Anjir, siapa sih bikin perasaan gue tambah gak mood. Aulia melihat ke layar handphone. Ah! Gini nih. Jadi gak konsen! Harusnya no yang gak gue kenal gak usah gue angkat!. Aulia menggerutu dalam hati.

“Hai, cat. Apa kabar?”, pertanyaan seolah-solah ia mengenal Aulia.

“cat???”. Ini beneran? Tunggu! Gak mungkin. Ini pasti efek perasaan kaget gue ke Arven tadi, jadinya gue salah denger. “lo nanya apa barusan?”, Aulia menimpali dengan pertanyaan untuk memastikan.

“Hai, cat. Apa kabar?”, dengan suara tenang seperti mencoba menahan rindu.

Beneran! Yang gue denger adalah nama cat. Nama panggilan kesayangan pig buat gue. Is he come back? Really? . Berbicara sendiri dalam hati, tanpa sadar bibirnya merekah menyamping. “Pig? Is that you?”.

“senang rasanya lo masih inget panggilan kesayangan gue buat lo. Lo tambah cantik, cat”. Suaranya berubah seolah menggoda.

“hahahaha lo bakal nyesel kalo ketemu gue sekarang. Gue jadi gendut, pendek, item, rambut gue potong kaya cowo”. Aulia sengaja berbohong untuk memberi kejutan saat mereka bertemu nanti bahwa dia menepati janjinya untuk hidup lebih baik.

“style lo ok sekarang. Rambut lo tambah panjang, gak pendek kaya dulu. Hmmm, gue suka warna baju yang lo pake sekarang. Warna kesukaan gue”, pria ini merespon Aulia dengan cepat.

Lho? Apaan nih? Kenapa dia tau warna baju gue? Kenapa dia tau rambut gue? “Lo... Di.. mana?”, suara Aulia terdengar terbata-bata. Aulia menajamkan matanya, melihat sekeliling. Badannya ikut merubah arah. Ke kiri, ke kanan, ke belakang. Berjalan, mencari pria pelindungnya yang menjadi cinta pertamanya.

“gue di belakang lo”, jawab pria ini dengan suara yang menggambarkan bahwa ia sedang tersenyum, menanti Aulia menoleh.

Dengan rambut hitamnya yang panjang terurai, ia menoleh ke belakang. Ketemu! Aku melihatmu, pig. Kamu sangat tampan. Aulia melambaikan tangannya, berlari ke arahnya, dan tersenyum sangat lebar. Menunjukkan ia sangat senang bertemu dengan pria tinggi berkacamata itu, Denis Adiswara. Mereka sudah berteman lama sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Baik dan buruk dari sifat mereka bukan lagi suatu rahasia. Mengenal baik satu sama lain. Terlebih saat Aulia merasa dimana Tuhan memberikan hidup yang tidak adil, Denis menyuguhkan pundak untuk bersandar. Bukan hal yang mustahil apabila perasaan Aulia berubah untuknya. Tidak lagi perasaan seorang teman melainkan lebih dari itu.

“wow! Kapan lo balik dari korea?”, dengan suara terengah-engah, Aulia memberikan pertanyaan.

“Baru sampe”, Denis menjawab dengan mengusap kepala Aulia.

“kok lo tau gue disini?”

“tadi gue ke kampus lo. Gue liat lo di taman. Gue liat lo makan. Dan gue ikutin lo pulang”,  Denis menjawab dengan mengedipkan matanya yang tidak bisa ditolak. “ayo gue anterin pulang sambil menikmati udara malam”. Denis menarik tangan Aulia dan mereka berjalan seperti mengenang masa dulu ditemani dengan angin yang bersahabat. “Haaaah... kota ini banyak berubah. Ayunan yang dulu sering kita datangi udah gak ada. Gue tadi sempet bingung harus kemana. Apa gue harus menguhubungi lo dulu atau gue langsung ke kampus lo. Gak sia-sia gue nekat ke kampus lo, cat. Lo berubah. Ternyata lo ada bakat buat jadi cinderella ya”, Denis menyelipkan candaan di tengah obrolan mereka. Seperti itulah Denis. “gimana puasanya? Lancar?”.

“alhamdulilah lancar. Sampai sekarang masih belom ada yang bocor. Gak kaya pas SMP. Lo sering banget ngajakkin gue batal puasa”, Aulia menjawab sambil memukul lengan kanan Denis. “Besok lo ada rencana kemana?”.

“lo mau ngajakkin gue kencan? Sore ya. Pagi sampe siang gue ada urusan”.


“pagi gue juga gak bisa. gue ada acara amal Ramadhan di Panti Asuhan deket kampus gue. Ya menghibur adik-adik disana. Ada semacem workshop hijab juga sih disana. Nah gue divisi acaranya jadi dari pagi sampe siang patsi gue sibuk banget. Besok gue mau minta temenin buka puasa. Acaranya cuma sampe jam 3 kok, abis itu lo jemput gue di kampus. Ah iya, Besok pagi lo jangan lupa ke gereja. Harus!”, dengan suara tegas Aulia mengingatkan Denis. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk saling mengingatkan ibadah satu sama lain. Perbedaan keyakinan ini yang membuat Aulia tidak bisa mempertahankan cinta pertamanya. Yang bisa Aulia lakukan hanyalah berada didekatnya, entah sampai kapan. Mungkin sampai perasaan itu sudah tidak bisa dinikmati lagi. 

Dituduh Plagiat Cerpen, Penulis Ini Akhirnya Minta Maaf


Dituduh Plagiat Cerpen, Penulis Ini Akhirnya Minta Maaf

Tia Agnes Astuti - detikhot
Rabu, 24/06/2015 08:38 WIB
http://images.detik.com/content/2015/06/24/1059/083725_kyungsook.jpegLA Times
Jakarta -
Dituduh memplagiat sebuah cerita pendek milik penulis Jepang, peraih penghargaan bergengsi tingkat dunia 'Man Asia Literary' ini akhirnya meminta maaf kepada netizen. Ia mengakui memang ada kemiripan di cerita yang ditulisnya tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Kyunghang Shinmun, Shin Kyung-sook mengungkapkan penyesalannya atas kontroversi tersebut.

"Saya meminta maaf kepada publik dan para penggemar yang setia membaca karya saya. Serta pecinta sastra dan orang-orang yang mengenal saya. Semuanya salahku," ucapnya dilansir berbagai sumber, Rabu (17/6/2015).

Kyung-sook dikenal sebagai penulis Korea Selatan yang konsisten menerbitkan buku sejak 1985. Novel pertamanya 'Winter Fable' diterbitkan usai lulus dari jurusan sastra di Seoul Institute of Arts. 

[ Cerita Berantai ] Part 5


Langit indah sore itu menampakkan wajahnya seolah seperti gemerlap kegembiraan ada padanya hari itu. Namun tidak dengan Aulia yang sedang memikirkan banyak perihal tentang kehidupannya. Hari demi hari Aulia semakin terlihat ruwet. Perasaan yang tidak mungkin untuk tidak difikirkan olehnya. Ini bukan sekedar tegur atau sapa dari Sang Maha Kuasa. Inilah cobaan hidup yang diberikan olehNya untuk seorang Aulia yang telah kehilangan Sang Ibu tercinta sejak Aulia berumur jagung. Era hidup yang berputar arahlah yang memaksa karakter Aulia menjadi sosok seperti sekarang.

Pukul 4 sore. Aulia melihat jam tangan putih yang dikenakannya di tangan kiri. Aulia berjalan pulang tanpa ditemani Gadis. Di taman kampus Aulia menghentikan kaki nya dan mencoba untuk duduk sejenak di kursi taman tepat dibawah rimbunan pohon anggur yang sepi. Kursi dua arah yang terbuat dari kayu jati nan tak kunjung rapuh. Aulia menaruh Tas ransel hitam yang selalu ia bawa tepat disampingnya. Terlintas pemikiran Aulia tentang Arven yang absen pada jam perkuliahan kala itu.

“Kemana yaa anak itu?”
“Numben amat dia gak masuk tanpa ninggalin izin...?” Pemikiran spontan Aulia dari dalam hatinya.
“Ehhhhh... ngapain juga gua pikirin, kurang kerjaan...” Aulia menyangkal pemikirannya sendiri sambil mencari Headphone di dalam tas ransel hitamnya.

BERCAK UNGU


Embun mulai berjatuhan. Nyanyian pernjak melengking seakan tak berdosa. Sang surya masih tertidur pulas. Kokokan si jembel merah hampir menjebol gendang telingaku. Ku lihat indahnya surga dunia. Tak satupun  orang menghiraukan. Menjelajah samudera hingga menancapkan sang merah putih di puncak everest. Oh dasar! Itu mimpi. Selambat laju siput kubuka mata “Astaga! Itu benar mimpi” pikirku sedikit kecewa. Ku lempar boneka tuaku hingga terdengar suara seperti radio rusak. Inginku tarik selimut lagi, namun tak tega. Terselip dua kata yang bertamu di pikiranku. Iya! Wujudkan mimpi.

Share It