Remah Waktu


Kita tidak pernah sedekat ini waktu itu.
Berbicara seenaknya.
Merasakan kepedihan
Beberapa hari tidak bertemu, sungguh menyisakan rindu yang sangat
Sungguhpun, walau terkadang aku mengingkari dan selalu menyatakan tidak atas rindu ini.
Kita tidak pernah sedekat ini.
Sejauh ini kita berdiskusi hingga akhirnya kita saling  terdiam
Hingga bibir kita bertemu.
Pernah ada jarak yang kita rangkai diantara pelukan erat yg engkau dekapkan  ..hangat
Masih pernah ada perasaan kosong yang aku rasakan di balik setiap kecupan yang engkau layangkan.. Di matamu
Dan malam itu,
Engkau rebah di dalam peluk ku
Untuk sekedar melepas lelah, mungkin
Untuk sekedar melepas penat sebab bekerja seharian.
Kita pernah sedekat ini, waktu itu
Dan engkau tidak
Aku tidak yakin engkau tahu benar apa yang aku rasakan.
Dinginnya angin malam menusuk,
Seolah tidak aku hiraukan tubuh kering ini.
berlama lama mendengar apa yg kau katakan, walau sebagian besar engkau diam.
Heei kata yang bergerak.
Aku tidak yakin kau benar-benar tahu.
Jkt, 17 september 2014
FRN

Artikel CerPen di Majalah

Tentang Komunitas Cerita Penulis masuk majalah Chic edisi 176 loh sobat penulis. Tentunya ini semua karena dukungan para penulis yang tergabung di dalamnya.

Karena itu mari kita bekerja sama tuk membuat komunitas ini tetap eksis di dunia maya dan di kehidupan nyata. hehehe

Buat sobat penulis yang ada di Jakarta dan mau jadi kontributor (luar jakarta), volunteer, atau pun admin bisa kirim email ke komunitasceritapenulis@gmail.com 

Jangan takut nggak bisa, semua diajarkan kok nantinya dan tentunya juga admin-admin di sini masih pada belajar juga.

#SabtuBerpuisi ke-1

Halo sobat penulis yang suka merangkai kata lewat puisi,
Nggak asik ah kalo gak ikutan #SabtuBerpuisi di FB Cerita Penulis

Belum tahu atau belum sempet ikutan puisi kali ini? Jangan khawatir, akan diadakan tiap Sabtu malam kok. Pantengin aja timeline FB Cerita Penulis 
Jangan sampai ketinggalan lagi ya. ^-^ 

Nah, Sabtu 6 September 2014 lalu, peserta diajak tuk melengkapi puisi dari mimin. Karya mereka keren-keren loh... (bisa dilihat di FB) Tapi sayang sekali, mimin hanya dapat memilih satu orang saja yang karyanya di publish di sini. Apresiasi buat kamu


Nah, ini dia yang beruntung...

Desember 12



          Kulitnya yang kelabu, serta tubuhnya yang hanya ditutupi oleh koteka sangat menegaskan bahwa pria itu berasal dari daerah cendrawasih. Dilihat dari parasnya, pria itu tidak terlalu menawan, namun sepertinya hal itulah yang membuat seorang gadis Jawa berdarah ningrat seperti Lembayung Gendis Jayadiningrat, justru semakin asik menikmati wajah pria tersebut melalui bingkai foto yang saat ini sedang dipegangnya. Saat Gendis menatap pria tersebut melalui bingkai foto, Gendis nampak begitu bahagia, namun terkadang butiran air mata juga mengalir dari bola matanya, dan juga sering diiringi oleh jeritan yang histeris.  Dan kini, perasaan pilu bercampur rindu menyelimuti hati Gendis, bahkan fikiran Gendis pun teringat pada Desember 12, yah itulah tanggal yang mempertemukan Gendis dengan sosok pria tersebut. Perkenalan Gendis dengan sosok pria tersebut, seolah membuka kembali lembaran kenangan manis Gendis dengan pria tersebut.

Penasaran

Penasaran- Selly Miarani
Penasaran
@sellymiarani

Lelaki bertopi biru.

Aku masih ingat pertama kali melihat sosoknya yang sepantaran denganku. Untuk ukuran cowok, dia tergolong pendek-setidaknya itu menurutku-apalagi paras wajahnya begitu mungil, membuat dia lebih imut dan menarik perhatianku. 

Dia berjalan begitu cepat, lalu beberapa menit kemudian masuk ke sebuah gang kecil lainnya dan menghilang dari pandanganku. Saat itulah aku melihat wajah mungilnya. 

Aku menengok ke gang itu ketika lewat, tentu dengan harapan dapat menemukannya. Mataku mencari lelaki itu tapi yang kulihat hanyalah jalanan kosong, tak ada satu pun makhluk hidup yang bergerak. Lalu setelah itu, aku mulai bertanya-tanya dalam hatiku, apakah aku kurang kerjaan?

Sella dan Viona




“Sellaaaaaa……” Viona memanggil Sella dengan nada keras dan muka marah.
“Ini kenapa laptopku gak bisa nyala, Sel?” Viona bertanya sambil memukul-mukul laptop ungu kesayangannya.
“Aku gak tau kak, tadi malem itu aku cuma pinjem buat bikin presentasi doang” Sella menunduk takut.
“Ya tapi kenapa gak bisa nyala? Dasar adek pembawa sial” Viona meninggalkan Sella. Kaget bukan kepalang saat Sella dengar kakaknya sendiri bilang bahwa dia ‘Pembawa Sial’. Sella benar-benar tidak tau soal laptop kakaknya yang rusak tiba-tiba seperti itu. Ia ingin bertanggung jawab meskipun ia tidak bersalah, Sella menemui Viona yg masih kesal tak terbatas.

Mr. Excebetha



“Jadi menurut Bapak, apakah perusahaan yang mempunyai banyak hutang itu bisa disebut sebagai perusahaan dengan neraca keuangan yang baik?” tanya Mr. Excebetha
“Tergantung, sebesar apa hutangnya? Sebagaimana persamaan akuntansi yang kamu ketahui yaitu harta = hutang +modal, jadi perusahaan yang baik adalah perusahaan yang punya hutang, bukan banyak hutang ya, kalau hutangnya melebihi modal yang dia punya juga gak bagus, perusahaan bisa kolaps” Ucap Pak Rajasa menjelaskan pertanyaan Mr. Excebetha dengan lancar
Aku yang duduk dibarisan belakangnya, hanya mengangguk-angguk tanda setuju entah fokus pada pelajaran Analisa Laporan Keuangan ini, atau fokus pada dirinya. Yup...si Mr. Excebetha ini.

Wrong Password


-WRONG PASSWORD-

Pergi ke Seven Eleven selepas jam kampus memang bukan gayaku. Nggak peduli apa kata mereka yang bilang aku nggak gaul-lah, anak rumahan-lah. Siapa peduli?

Tak-tok-tak-tok….


Jam di tangan kananku menunjukkan angka tiga. Tiga puluh menit lagi, kelas kepribadian dimulai. Jika bukan karna absenku yang tak tertolong, ingin rasanya aku tetap tinggal di rumah. Menghabiskan waktu bermalas-malasan dengan Bobby ikan koi kesayanganku, yang baru kubawa ke rumah sabtu lalu. Sebenarnya berat meninggalkan Bobby di rumah, karna aku harus kehilangan lagi sahabat setia sepanjang masa.  Memboyong Bobby beserta kolam antiknya ke rumah, menjadi pilihan terakhir untuk menyelamatkannya dari kesibukanku yang menanti di ujung waktu. Tepat sebulan lagi, aku harus menyebrang pulau untuk menjalani praktik kuliah di sebuah perusahaan sawit di Kalimantan.

Seharusnya tiga puluh menit waktu yang cukup untukku sampai di kelas dari tempatku indekos. Namun, itu menjadi waktu yang begitu mepet ketika aku harus mengganti jeans hitam dan kaos oblong serta jaket jeans yang saat ini kukenakan. Stelan favorit yang membuatku menjadi diri sendiri. Membuatku terlihat friendly, gesit dan tentunya santai. Namun, untuk mata kuliah yang satu ini, aku terpaksa menanggalkannya. Menggantinya dengan satu stel baju formal. Kemeja putih berenda di dada yang dimasukkan kedalam celana katun. Memakai blezzer hitam dan ini yang paling membuatku tersiksa. Kerudung warna putih dan sepasang sepatu berhak setinggi 5 cm.