Saling Memiliki dalam Diam


Hari masih sangat pagi, udara pun masih terasa sejuk. Seperti biasa, rutinitas gadis dengan tinggi 168 cm ini ialah menatap langit. Mengamati setiap penjuru, menanti hadirnya  seberkas cahaya yang mampu memberikan kehidupan pada segenap makhluk.  Entah dari kapan ia mulai menyukai langit. Entah apa pula yang ia sukai dari langit, yang jelas ia bisa lupa waktu karenanya.
Saya tunggu pukul 09.00 di ruangan saya. Don’t late!
Begitulah kira-kira pesan singkat yang dikirim Miss Oca pada Auxel, lengkapnya Teresa Auxel Virginia, seorang gadis blasteran Jawa- Jerman dengan rambut lurus sebahu dihiasi dengan poni yang menjuntai indah menghiasi dahi, ditambah hidung yang teramat mancung semakin mempertegas kecantikan wajahnya.
Membaca sederet tulisan di layar smartphone miliknya, hadiah dari Daddy di hari kelahirannya dua bulan lalu. Spontan ia gulirkan pandangannya sedemikian cepat menuju arloji yang terpampang di dinding kamar, matanya terbelalak, bulat sempurna.
God, setengah sembilan! Kill me!” batin Auxel dalam hati. Tanpa ba bi bu, bak kilat yang menyambar di tengah bolong, ia mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi.
 Waktu yang tersisa hanya sekitar tiga puluh menit saja. Hal ini tentu membuat Auxel kalang kabut. Bayangkan, untuk mencapai kampus saja, Auxel butuh waktu hingga dua puluh menit bila mobilnya dipacu 40 km/jam, itu pun kalau jalanan tidak macet. Belum lagi sisa dua puluh menitnya. Oh, God! Cewek mana yang bisa dandan hanya dengan dua puluh menit saja? Belum waktu mandinya, belum milih baju, tas, dan sepatu, belum lagi dandannya, apa lagi ditambah nyiapin setumpuk tugas yang mau dibawa ke kampus. So, Compilcated guys!
“Oke, fine, rileks!” batin Auxel menenangkan diri. “Gue tetep cantik hanya dengan sepuluh menit kok”, ucap Auxel di depan cermin rias, menguncir sebagian rambutnya bak ekor kuda dengan nafas setengah terengah. Berpacu dengan waktu ternyata mampu menimbulkan peluh.  Masih dengan keadaan mematung, ia menatap bayangnya sendiri seolah mencari jawab  atas tanya : Ga bakal ada yang nanya gue mandi sepuluh menit itu gimana kan? 
***
 Antrian panjang kendaraan di kota-kota besar adalah pemandangan yang sangat lazim ditemui. Polusi adalah teman akrab bagi masyarakat perkotaan. Lihat saja, mobil-mobil mewah bertambah setiap harinya. Belum lagi, kendaraan roda dua yang dirancang dengan berbagai tipe pun ikut memberi sumbangsih pada kepadatan jalan raya ini. Tak ada seorang pun yang mampu merubah keadaan ini.
Tinnn.... Tiinnn......
Suara klakson avanza putih milik Auxel bergema di udara. On time! Hanya itu yang diinginkan Auxel saat ini. Sepanjang perjalanan, isi pesan singkat miss Oca selalu muncul di benaknya.
“Ah, kampus masih jauh lagi. Bisa-bisa gue telat kalo gini. Agghh!” umpat Auxel dalam hati.
Panik. Lalu lintas yang tak kunjung terbebas dari kemacetan, fix membuat emosi  Auxel naik lima tingkat. Tanpa fikir panjang, Auxel memutuskan untuk menghubungi pak Tarjo, supir keluarga, untuk mengambil mobil yang dihentikannya di pinggir jalan. Berat bagi Auxel meninggalkan avanza putih itu karena hanya kendaraan roda empat dengan plat BG 4 XL inilah yang dengan rela mengantar Auxel kemana pun, layaknya seorang kekasih yang setia menemani.
Auxel pun turun dari mobilnya dan langsung menghampiri pangkalan ojek yang tak jauh dari tempat dia memarkir mobilnya.
“Anterin ke Universitas AAA dong, Bang. Gak pake lama ya” perintah Auxel kepada salah satu tukang ojek
“Oke neng”, tanggap si tukang ojek cepat.
Brum..... Brum......
Mereka melesat cepat, hilang dalam kepulan asap, melewati celah-celah sempit  kemacetan. Sepanjang perjalanan, Auxel komat-kamit merapal mantra, berharap tetesan Rossy yang ditumpanginya ini mampu mengantarkannya tepat waktu, selamat dan tanpa lecet sedikit pun.
Akhirnya setelah delapan menit berlalu, abang ojek berhasil melaksanakan kewajibannya pada Auxel, selaku penumpang.
“Yes, tepat waktu!” batin Auxel. Tak ingin waktunya terbuang Auxel pun turun dari motor si tukang ojek.
“Nih bang, ambil aja kembaliannya”, ucap Auxel seraya memberikan uang lima puluh ribu dan berlari menuju ruangan miss Oca.
Setelah melewati tiga hingga empat tikungan, tanpa diduga dari arah yang berlawanan muncul sesosok lelaki sederhana berperawakan sedang dengan model rambut harajuku bak anggota band jepang. Dan jeddaarr, terjadilah tabrakan antara dua insan yang tak saling mengenal itu.
“Eh, jalan pake mata dong. Kalau begini kan tugas gue jadi berantakan” bentak Auxel sambil kebingungan mengumpulkan lembaran kertas yang berserakan di lantai ketika bertabrakan.
Tanpa komando, Freizy Al-Hadi merunduk, membantu Auxel mengumpulkan berkas-berkas yang terlanjur terjun bebas di lantai.
“Nih”, tukas Zy kepada Auxel seraya menyerahkan berkas-berkas yang telah dipungutinya.
Mendengar si troublemaker bersuara, Auxel mengalihkan pandangannya ke arah seorang pemuda yang sedari tadi berada di hadapannya dengan tatapan nanar. ZzzzZZZzz. Ketika mata mereka saling bertemu dalam beberapa detik, ada getaran asing yang muncul tak terduga diantara keduanya. Dan seakan tak ingin terhanyut dalam waktu yang lebih lama lagi terhadap kejadian tak penting ini, Freizy bersuara kembali memecahkan suasana, “Sorry”. Hanya satu kata singkat yang Zy lontarkan, lalu pergi begitu saja sontak membuat Auxel mematung, menahan kecambuk amarah.
Teringat pesan singkat miss Oca, dengan sigap Auxel berdiri dan melanjutkan marathonnya menuju ruangan miss Oca.
***
Tok.... Tok.... Auxel mengetuk daun pintu yang setengah terbuka.
“Selamat pagi”, ucap Auxel dengan posisi kepala dan setengah badannya berada di dalam ruangan miss Oca, sedang kakinya masih berada di depan muka pintu –posisi mengintip dari celah pintu-
 “Iya, Pagi. Silakan masuk...” perintah Miss Oca.
Auxel mengangguk, memaksa sebagian tubuh lainnya masuk ke ruangan miss Oca.
Tepat di depan meja miss Oca, Auxel menyerahkan lembar tugas yang telah ia kerjakan dengan tingkat maksimal. Masih dalam keadaan mematung, kaki Auxel mulai gemetaran dan lemas, sudah setengah jam lebih ia berdiri, menunggu lembaran tugasnya diperiksa secara teliti dan mendetail.
“Loe kalo capek ya duduk!” ujar seorang pria yang duduk membelakanginya.
“Astaga, kenapa gue gak ikutan duduk daritadi sih”, gumam Auxel. Sesegera mungkin ia mengambil posisi duduk di sebelah pria yang tadi menyuruhnya untuk duduk dengan nada teramat dingin. Disergap rasa ingin tahu, Auxel mendelik, memasati tiap inci wajah pria di sebelahnya itu. “Gue kayaknya pernah ketemu sama nih orang. Tapi dimana sih?!”
Berbanding terbalik dengan sikap Auxel, Zy sebenarnya telah menyadari bila ia sedang diperhatikan oleh Auxel. Namun, ia tak memerdulikannya. Sikap dingin, acuh, dan cuek telah bersemayam di nadinya. Zy membiarkan Auxel memenuhi hasrat keingintahuannya terhadap Zy.
“Oke, Auxel. Kalau tugas kamu seperti ini, saya semakin yakin bahwa kamu memang cocok untuk bekerjasama dalam team dengan Freizy”
Ucapan miss Oca menyadarkan Auxel dari kegiatannya sedari tadi. Bukan itu saja, tiba-tiba sederet pertanyaan pun muncul di benaknya, “Kerjasama? Team? Apa? Terus, Freizy siapa? Apakah makhluk setengah jadi-jadian ini orangnya? Aghhhhhhhhh”
“Kalian saya tunjuk untuk mewakili fakultas kita untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah se-Indonesia. Event ini kebetulan diperuntukkan untuk dua sampai tiga orang saja yang dibentuk dalam sebuah team. Maka dari itu, saya percayakan kepada kalian berdua. Selamat bekerja sama dan beri hasil yang memuaskan untuk kita semua.  Tema dan syarat-syarat perlombaan ada di undangan ini, silahkan kalian baca dan pilih temanya sendiri”, lanjut miss Oca seraya menyerahkan selembar kertas kepada Auxel. “Kalian boleh keluar”, ucap miss Oca mengakhiri percakapan.
***
Woi! Inget ye tugas kita, gue tunggu loe di perpus fakultas sekarang!
Begitulah pesan singkat yang dikirim Auxel. Bukan tak sopan, hanya saja Auxel setengah geram kepada Zy karena tak kunjung memberi kejelasan kapan akan membahas materi yang seyogyanya harus segera mereka selesaikan dalam waktu dekat ini.
Deerrtt........ Deertt........
Smartphone putih berhias pernik doraemon bergetar sesaat, menandakan ada inbox yang berkunjung ke layar smartphone tersebut. Dengan sigap Auxel melempar pandang ke arah smartphone yang sedari tadi tergeletak manis di atas meja baca perpustakaan dengan tumpukan buku yang berjejer rapi di sana.
From : Freizy si cowok tengil
               Sorry, gue nggak bisa hari ini. Sibuk.
Pesan singkat yang dikirim Freizy berhasil membuat Auxel ‘shock’. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibir mungil Auxel, hanya gemuruh ombak amarah yang tertahan memenuhi ruang dada. Auxel benar-benar malas dengan kelakuan Freizy yang terlihat tak serius dengan amanat yang diembankan kepadanya.
“Fine, terserah lo!” Freizy membatin seraya menonaktifkan handpone-nya, lalu merapikan buku-buku yang tadi di ambilnya dari beberapa rak di pojok ruangan.
Bukan tak bertanggungjawab atas beban yang dipikul oleh Zy. Hanya saja kejadian semalam masih saja memenuhi ruang ingatannya dan berhasil membuatnya sesak seharian. Semua dialog yang terucap antara ayah dan ibunya terekam jelas di otaknya. Betapa sakitnya mengetahui bahwa ia hanyalah korban dari kelakuan ayah ibunya yang sangat tak pantas di lakukan di masa muda mereka. Terlebih, ketika Zy mengetahui bahwa dirinya adalah segumpal daging yang sama sekali tak diharapkan untuk hadir di dunia fana ini, begitu memilukan.
***
Tok... Tok...
“Assalammualaikum”
Terdengar sebuah ketukan dari daun pintu ruang tamu, berikut dengan salamnya. Suara yang sedikit asing di telinga para penghuni rumah. Suara lelaki muda dengan seraknya yang begitu khas menunjukkan usia yang masih berkisar dua puluh tahun. Di balik pintu, masih menunggu dengan sabar sesosok seorang pria berpakaian rapi dengan balutan kemeja kotak-kotak berwarna sedikit cerah dipadukan dengan setelan jins hitam menutupi kakinya yang jenjang menunggu pintu itu terbuka dan mempersilahkan ia masuk. Berbeda dengan keadaan di dalam rumah itu sendiri, semua mendadak bertanya-tanya akan sesosok makhluk yang bertandang ke rumah kediaman pak Felix tepat saat jam makan malam. Pak Felix yang baru menyuap sesendok nasi ke mulutnya itu dengan segera mengalihkan pandang ke istrinya dengan sedikit mengayunkan kepalanya ke atas sehingga dagunya mendongak sedikit, seolah bertanya “siapa itu?” Tak mau kalah, istrinya yang seolah dapat membaca fikiran suami tercintanya itu dengan cepat membalas dengan sebuah gelengan, yang memberikan isyarat ketidaktahuaannya. Lantas, dengan seksama, ibarat ada ikatan batin yang kuat antara suami dan istri, mereka menukar pandang ke anak gadis satu-satunya yang sangat mereka cintai, lalu bersama-sama mendelik seolah bertanya, “Auxel, teman lelakimu kah itu?”
Auxel yang mendapat perlakuan secara tiba-tiba dan dengan waktu yang bersamaan antara ayah dan ibunya, sontak membuat ia tersedak dengan makanan yang baru saja ia daratkan ke mulutnya, “Mommy, Daddy, No!!”, begitulah sergah Auxel cepat.
“Walaikumsalam”, terdengar mereka kompak menjawab salam dari seberang pintu. Nyonya Felix berangkat dari kursinya sejenak, membukakan pintu untuk memenuhi rasa keingintahuan semua penghuni rumah akan tamunya malam ini.
Freizy memandang sesosok wanita paruh baya nan bersahaja membuka pintu untuknya, masih dalam keadaan tegap dihiasi senyuman manis di wajahnya, Freizy mengungkapkan maksud kedatangannya, “Maaf, saya menganggu. Saya Freizy, teman kuliah  Auxel. Maksud kedatangan saya hanya sekedar memberikan dokumen dan beberapa file lainnya untuk Auxel”.
Seolah mengerti maksud dan tujuan tamunya malam ini, ibunda Auxel mempersilahkan Zy masuk dan langsung menawarkannya untuk ikut bergabung makan malam bersama keluarganya.
Ibunda Auxel dan Freizy melangkah bersamaan menuju ruang makan. Lagi lagi, untuk kedua kalinya, Auxel kembali tersedak oleh makanan yang baru dilahapnya beberapa detik yang lalu. “Omaigatttttt... Mau apa ini orang datang ke rumah?! Mengesalkan! Seenaknya saja. Datang tak diundang, pulang dengan sebuah usiran dariku nanti, tunggu saja!” batin Auxel.
Tanpa sadar, sedari tadi Auxel menatap lekat lelaki yang kini duduk tepat di hadapannya seraya mengetuk-ngetuk garpu dan sendok di piringnya. Auxel kehilangan selera makan, ia lebih selera untuk mengetahui maksud serta tujuan si lelaki tengil ini datang ke rumahnya. Oh ya, tentu saja, ia tak mengerti, darimana lelaki menyebalkan ini mengetahui rumahnya. Sedang, Freizy sangat menikmati hidangan makan malam yang tersaji di sana. Sesekali ia melempar senyum ke arah Auxel, ibu dan ayahnya. “Andai saja, aku mendapati hal yang sama seperti ini di rumah”, batin Freizy.
***
 Pukul 10.00 WIB
Freizy memakirkan sebuah jazz putih di parkiran kampus, tepat di sebelah mobil berplat BG 4 XL. Kedua pemilik mobil itu serentak keluar dari mobilnya masing-masing bersamaan. Dannnn.... “Eloooo”, seru keduanya kompak saling tunjuk.
“Ngapain lo markir mobil sebelah gue, ha? Sengaja ngintilin gue, ya?”
“Kegeeran lo!” jawab Zy dingin –lagi—
“Dasar, cowok jadi-jadian. Ga bisa baik kali ya jadi orang. Ngomong irit amat, bayar kali ye dia kata perhurufnya. Dasar,  nyebelin setengah mampus lu! Udah nabrak gue tempo hari, terus udah buat gue nunggu di perpustakaan, eh taunya lu jawab gampang Gak Bisa! Terus, gue lagi nikmatin makan malam, eh elu nongol tanpa undangan buat selera makan gue mendadak hilang. Sekarang muncul tiba-tiba, jawab sekenanya lalu pergi lagi gitu aja. Dasaaarrr......” Auxel memaki dalam hati memandangi punggung Freizy yang lambat laun menghilang dari pandangannya.
Dreett... Dreett..
Tiba-tiba ada satu pesan masuk ke layar hp nya. Olala.. dari makhluk yang belum ada lima menit dimakinya tadi.
Gue tunggu di perpustakaan sekarang!
15 menit kemudian....
Auxel telah duduk sama rata dengan Freizy. Seperti biasa, tanpa dikomando Freizy mengambil alih semuanya.
“Nih, sisa tulisan yang semalam”, Freizy menyodorkan beberapa draft ke atas meja. Auxel mencoba melakukan hal yang sama sperti Freizy, mengacuhkan perkataannya. Freizy menahan geli melihat gadis cerewet yang tengah bersamanya ini mendadak diam dan hanya memalingkan muka saja. Terkesan sangat dipaksakan. “Tak perlu di revisi lagi, menurutku semua tulisanku itu cukup untuk membuat kita menyabet kemenangan pada karya tulis ilmiah nanti. Cukup kamu pelajari saja. Aku pun yakin kamu bisa memahaminya dengan cepat”, lanjut Freizy menerangkan.
“Sombong...........................”Teriak Auxel dalam hati.
“Ya, tapi kalau dikira perlu, silahkan saja revisi tulisanku. Nih, laptopnya. Untuk materinya bisa cari sendiri di rak pojok kanan sana”, Freizy menunjukkan arah yang dimaksud pada Auxel. “Gue laper, kantin bentar ya! Selamat mengerjakan, gadis bawel!”
“Freizyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy.............” pekik Auxel begitu keras. Kini tak lagi dipendamnya dalam hati. Ia benar-benar berteriak di dalam perpustakaan, kontan membuat semua pengunjung di sana menatap ke arahnya dengan tatapan monster. Sedang Freizy, pergi dengan melempar senyum nakal diikuti kedipan mata pada Auxel.
***
Tok... Tok...
Lagi dan lagi. Tepat pada jam makan malam di kediaman pak Felix, daun pintu di ruang tamunya terketuk. Dan kini, tanpa dikomando, Auxel berlari bak kilat membuka pintu rumah mereka. Ayah ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya.
“Tuh kan, elo lagi! Ngapain lagi sih?” tukas Auxel ketika mendapati Freizy di sana. Kali ini tentu saja, bukan tugas kuliah alasanya. Tujuan Freizy bertandang ke rumah Auxel, tak lain untuk ngedate bersama Auxel dan kedua orangtuanya. Ya, walaupun belum ada ikatan jelas dan permintaan resmi pada Auxel. Tapi, ia yakin, sebenarnya pun Auxel menginginkan hal serupa.
Belum sempat Freizy menjawab, teriakan ibunya menggema, “Masuk saja nak Freizy, kita makan malam bersama lagi ayo”
“Hey, nyonya Auxel yang bawel, udah denger kan? Gue di suruh masuk dan makan malam bersama”, Freizy berucap pelan tepat di daun telinga Auxel, kontan membuat pipinya memerah karena jarak mereka yang begitu dekat diirngi dengan desahan nafas yang begitu lembut. Freizy melangkahkan kaki mantap ke arah ruang makan meninggalkan Auxel terpaku di muka pintu. Sebelum tiba-tiba, Freizy berbalik ke ruang tamu...
“Mmuaach”, ciuman kecil mendarat di pipi Auxel. “Jangan keseringan bawelnya, ntar cantiknya ilang loh. Mending sekarang kita gabung buat makan malam, gue udah laper kali”, lanjut Freizy memecahkan suasana.
Auxel hanya mampu mengangguk. Entah, ada bermacam-macam rasa yang berkecambuk di relung hatinya saat Freizy mengecup pipinya. Tak sadar, Auxel membiarkan lelaki tengil itu menggenggam erat tangannya sampai ke ruang makan.
“Maaf, tante, om, lama. Tadi si Auxel mematung di muka pintu. Ya, mungkin terpesona sama ketampanan saya. Jadi, saya terpaksa menyeret tangannya ke sini. Kan lumayan lagi lapar ditawarin makan sama tante”, Freizy menerangkan dengan nyinyir, lalu beralih menatap mata Auxel dalam.
Auxel hanya tertunduk malu mendengarkan penuturan Freizy yang terkesan PD tingkat maksimal.
“Gimana gue nggak jadi patung tadi, Freizy.... Gue malu pas elo cium tadi. Tapi, di sisi lain gue juga seneng. Entah, ada satu rasa yang sulit untuk gue terjemahkan saat bersama elo. Ah, kenapa sih elo bisa berubah manis gini sifatnya!” batin Auxel.
“Maafin sikap gue yang tak terkendali tadi ya, Xel. Gue sebenernya suka sama elo, bahkan saat keluarga elo nerima kehadiran gue. Entah, rasa sayang itu muncul gitu aja. Elo orang pertama yang mampu melelehkan kerasnya hati gue, Xel. Cuma elo, Xel. Gue janji akan selalu jagain elo. Ya, walaupun elo gak pernah memintanya”, ucap Freizy di hatinya.
Pun Auxel, seolah mendengar curahan hati Freizy, ia berkata dalam diamnya, “Gue juga sayang sama elo, Zy. Dan mulai saat ini, gue akan selalu ada buat elo. Gue janji akan selalu ada pelangi di setiap harinya di langit elo, Zy. Dan biarlah kita seperti ini, saling memiliki dalam diam, saling menjaga dalam rasa. Tak perlu tanggal jadian, jika hanya untuk mencari tanggal buat putusan. Bukankah yang seperti ini lebih dari cukup, Zy?”

***

Dalam Sebuah Kebungkaman

Judul : Dalam Sebuah Kebungkaman
ISBN : 978-602-14912-8-7
Kode : N-DSK
Kategori : Novel
Penulis : Wulan Arya
Ukuran : 14,8 x 21 cm
Halaman : 213 halaman
Penerbit : Rasibook 
Harga : Rp. 42.000,-
  
Bisa di dapatkan melalui :
Atau bisa pesen via INBOX FB penulis Ke : https://www.facebook.com/ViaNobyRamania
Oh ia sekedar info, sekarang Novel Dalam Sebuah Kebungkaman telah dipasarkan juga dalam bentuk digital dengan aplikasi scoop di appstore, windowstore, dll khusus untuk pengguna I pad, I phone, Android, dan windows phone.
Berikut linknya 
http://www.getscoop.com/id/buku/dalam-sebuah-kebungkaman

Aku disini dan kau disana. Aku ada namun tak teranggap.
Namamu ada dalam bait doaku.
Bersamamu adalah impian terbesarku.
Walau aku berada disini dan kau disana.
Walau aku tak pernah bersuara....
Aku percaya, Dia Sang Pemilik cinta akan berikanku yang terbaik.
Aku berdoa dari sisi aku yang tak kau tau.
Dari sisi yang sama sekali tak pernah menjadi berarti di matamu.

Aku mencintaimu...
Dari sini, dari sisi yang tak kau tau.
Dari sini, dari kejauhan mata. Dari jarak yang sebenarnya dekat.

Rasa yang muncul tak pernah terucap.
Laksana bisu yang tak pandai berucap.
Sakit memang, menyesakkan pasti.
Dalam diam ku mulai jatuh hati.
Dalam bisu aku mengharapkanmu....

Blue Romance

Judul: Blue Romance
Pengarang: Sheva
Penerbit: Plotpoint
Seri: Omnibook Series
Tanggal Terbit: September 2012
ISBN: 978-602-9481-16-7
Harga: Rp 32.000
Bisa didapatkan di Gramedia, Togamas, Gunung Agung, Leksika, Eureka, dan toko-toko buku online seperti mizan.comkutukutubuku.compengenbuku.net, dll

Blue Romance adalah sebuah omnibook terbitan PlotPoint Publishing pada tahun 2012. Omnibook adalah kumpulan cerita pendek fiksi dengan satu benang merah. Blue Romance menceritakan tujuh kisah jatuh cinta, patah hati, tentang sahabat dan keluarga, yang terjadi di seputar kedai kopi cantik di Cikini yang bernama Blue Romance. Dalam setiap cerita, terdapat satu jenis minuman kopi yang mewakili ceritanya. Karena setiap kisah memiliki kopinya sendiri.



Kisah mana yang cocok dengan kopimu?

Lucid Dream

Lucid Dream: Seni Meningkatkan Potensi Diri
penulis: Dini Savila
ukuran buku: 14x21 cm
tebal buku: 136 halaman
Penerbit: Kana Media (Galangpress Group)
harga buku: Rp.37.000
buku bisa didapatkan di: Gramedia dan toko buku terdekat di kotamu

Apa itu lucid dream?
Lucid Dream adalah suatu keadaan ketika seseorang tersadar bahwa dirinya sedang bermimpi dan tengah berada di alam mimpi. Melaluilucid dream, kita dapat mengatur sendiri mimpi yang sedang kita alami sebebas-bebasnya.

Lucid dream dapat digunakan sebagai pengobatan dan penyembuhan fisik-mental secara pribadi, serta untuk mengasah indra keenam. Kita pun dapat mengeksplorasi dunia mimpi, memunculkan ide terpendam, melakukan hal-hal yang disukai, serta menghilangkan trauma. 

Selain itu, lucid dream juga dapat digunakan untuk meningkatkan kreativitas. Bagi pelajar, lucid dream bisa digunakan untuk meningkatkan nilai mata pelajaran. Bagi pebisnis, lucid dream digunakan untuk mengatasi keadaan jenuh dalam dunia bisnis. Sementara itu bagi mahasiswa, lucid dream dapat membantu penyampaian komunikasi lebih efektif. Lalu, bagaimana cara melakukannya?

Buku ini membahas bagaimana kita bisa memasuki fase lucid dream, beberapa fakta seputar mimpi dan lucid dream, dan masih banyak lagi fenomena lucid dream yang akan ditemukan dalam buku ini. 

Selamat mencoba dan membuktikannya!

Buku Inspiratif Jika Aku Mereka

Penulis: 12 Pemenang Sayembara Menulis Kisah Disabilitas
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 230 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-697-9
Harga: Rp45.000


READ SAMPLE

Apa jadinya bila suatu saat duniamu gelap,
alunan nada-nada di sekitarmu seketika hening.
Atau bahkan, kau tak lagi bisa mengungkapkan isi hatimu melalui pita suara?
Yakinkah kau mampu menjalaninya tanpa rutukan dan tangis setiap detiknya?

Maka, akan kuceritakan tentang mereka,
yang tak gentar meski ketidaksempurnaan merengkuhnya,
yang tak pernah lelah memikul impian,
dan yang selalu percaya pada harapan.

Mereka yang kuceritakan adalah orang-orang "istimewa"
seperti pelangi yang menebar rona,
melukiskan inspirasi pada dunia.
Karena setiap orang dilahirkan dengan berjuta keunikan,
yang menjadikannya begitu berharga

Novel Best Friend

Penulis: May Una Kirana / Selly Miarani
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: 154 hlm
Penerbit: Cerita Penulis
Diterbitkan oleh: Nulis Buku
Harga: Rp 50.000
Pemesanan : http://nulisbuku.com/books/view_book/4939/best-friend
atau mention ke twitter @cerita_penulis 


READ SAMPLE

Berkah Untuk Ramadhan

Karya : Nabila Al Qoshwa

Malam pertama ramadhan
Langit menumpahkan semua isinya...

Gugusan bintang yg berkerlip nyata 
Membentuk ribuan formasi... 

Dan rembulan melengkung sempurna bermahkotakan emas
Sungguh indah...
Seperti menebarkan rahmat Sang Pelukisnya...

Seperti membagi berkah ramadhan yg tiada tara...

Malam selanjutnya
Ada satu malam dimana langit tampak suram... 

Tapi masih menyimpan keindahan 
Kala itu langit tersaput awan,
Kosong...

Tampak bulan tengah bertarung menyingkirkan awan nakal,
Siluet gunung dan sawah kuning membentang dikegelapan... 

Kala kumenatap langit lagi
Gerhana telah muncul dengan aura elegannya
Bersinar keemasan... 

Berkah ramadhan yang lain....


Pemenang #PuisiGalau Malam Minggu Edisi Ke-8 On Facebook Komunitas Cerita Penulis

Indahnya Ramadhan

Karya: Firda Yuliana Pertiwi


Hari ini akan aku yakinkan
Senandung dari hati yang terdalam...

Harapan telah ku kumandangkan dengan doa
Hati riang gembira aku dapatkan...


Seolah olah tak hiraukan pendapat orang
Ribuan pahala dan ampunan dosa sangat ku nantikan...


Bulan ramadhan bulan kemenangan
Bulan ramadhan bulan yang penuh kegembiraan...


Sujud syukur seiring berjalan
jangan pernah tancapkan airmata
Kala suka dan duka menyelimuti

Tuhan pertemukan aku dengan ramadhan berikutnya dan selanjutnya.
Aku ingin memperbaiki jiwa dan ragaku hanya sujud dan memohon kepadamu...


Semua orang berubah tanpa paksaan 
Cinta dan kasih kepada Tuhan dilebihkan...


Begitu indahnya bulan ini
Bulan suci ramadhan...


Pemenang #PuisiGalau Malam Minggu Edisi Ke-7 On Facebook Komunitas Cerita Penulis

LAST ONE I LOVE #2



Kalau aku harus memilih satu dari banyak alasan mengapa aku mencintai seseorang, kuharap alasan yang terakhir adalah kamu, Ara.”  
Created by: Igant Erisza M~
            Aku hanya bisa menatap lurus sosok itu. Menatapnya tanpa mengatakan apapun. Sosok itu mendekatiku. Dentum jantungku bergerak cepat, membuatku bergetar tanpa menemukan cara untuk menghindarinya. Perasaanku bercampur aduk, antara takut, gugup, senang, dan sakit. 

Happy Birthday Komunitas Cerita Penulis

Happy Birthday Cerita Penulis.... 
Wah, gak kerasa udah satu tahun ya. Yup, 18 July 2014 tepat satu tahun komunitas ini dibentuk.

Di hari yang berbahagia ini, mimin memutuskan untuk mengijinkan kamu memosting sendiri karya kamu di BLOG ini. Kenapa? Ya, karena blog ini punya kalian juga secara postingannya kebanyakan karya-karya kalian juga. heheheh
Karena itu, tepat hari ini, mimin resmi membuka BLOG ini. Eh, maksudnya gimana nih?

Gini-gini.... Kamu bisa posting langsung di sini sebagai penulis. Enak kan? 
Sekaligus ngebantu mimin juga yg suka lama mostingin karya kamu. Harap maklum ya, miminnya cuman dikit, tapi kerjaan banyak, belum lagi ada yg kuliah, ada yg kerja. LOH, kok jadi curhat. heheheh

Balik lagi ke postingan kamu, gimana caranya? Gampang banget. Tinggal ikutin instruksi dari mimin di bawah ini. Simak ya :)

Pertama-tama, mimin akan mengundang kamu untuk jadi kontributor di BLOG Cerita Penulis. Cek email kamu ya :) Nanti akan muncul seperti gambar di bawah ini. Kamu tinggal klik Terima Undangan



Nah setelah itu, akan muncul di layar kamu, seperti gambar di bawah ini. Tinggal klik MASUK aja ya :)




Nantinya, nama kamu akan muncul di sini sebagai penulis. Contoh Selly Miarani(nama kamu)


Dan kamu langsung bisa posting karya kamu di BLOG CERITA PENULIS
Ingat untuk mematuhi syarat dan ketentuannya ya. Baca dulu ya SYARAT dan KETENTUAN

Syarat Tambahan yang perlu diperhatikan

  1. Kamu tidak boleh menyimpan postingan kamu, alias menaruhnya di draf. Bila ingin posting, langsung saja posting. Tapi ingat, jika kamu sudah posting dan ingin memosting lagi, tunggu sampai ada 5 postingan dari penulis lainnya, baru kamu bisa posting kembali.
  2. Setelah posting, harap mention di twitter @cerita_penulis berikut hastaq karya kamu setelah kamu memostingkan karya kamu. 
contohnya seperti ini ya
Ingat menyertakan hastaq judul cerpen kamu, link postingan cerpen kamu dan juga cc ke @cerita_penulis Ini berguna tuk mimin promote karya kamu di hari-hari berikutnya. 
NOTE : Jika kamu tidak menerima email di inbox, cek spam kamu ya, mungkin nyasar di sana. Jika belum juga, tinggalkan komentar di sini dan sertakan nama email kamu. Nanti mimin akan kirimkan.

Nah, buat kamu yg belum memosting karyanya di sini, jangan kuatir. Kamu juga bisa ikut berpartisipasi. Sertakan email kamu di sini ya.

Dan jangan lupa baca SYARAT dan KETENTUANNYA

Mimin harap kita dapat bekerja sama dengan baik. Salam penulis :)

Note: 23 agustus nanti mimin mengajak kamu yg ada di jakarta tuk temu dan sharing sesama penulis. waktu dan tempat disampaikan kemudian. So catet di agenda km tanggalnya ya