Hujan, Anugerah atau Musibah?

 







Brassshhhh..!!!!


Seketika bagian kiri tubuhku basah dengan cipratan mobil yang ngebut. Dengan posisi yang lagi duduk sambil mengendarai motor Jupiter merahku ini, membuat aku nggak bisa apa-apa selain fokus kejalanan yang basah cenderung banjir ini. Ingin rasanya ngejer mobil itu dan memaki pengemudinya. Tapi dengan jalanan yang diguyur hujan lebat, aku nggak berani melaju terlalu kencang. Ya, lambat asal selamat. Cuaca akhir-akhir ini memang payah. Siang cuacanya terik – menjelang sore hujan lebat. Di wilayah yang ini kering – di wilayah lainnya basah. Menyiapkan mantel hujan pun rasanya percuma. 

LDR (Love in Different Religion)

“Siapa namanya?” tanyaku sambil bersiap menuliskan namanya dideretan penampil.
“Andre.”jawabnya seraya tersenyum. Aku terpaku.
     “La, hei!!” panggil Riri keras sambil memukul kepalaku. Aku sedikit oleng lalu menatap Riri ganas. “Apasih?” jawabku.
     “Kenapa putus?” tanyanya to the point. Ah… ya tadi aku sedang bercerita bahwa aku sudah putus dengan pacarku.
     Aku memutar bola mataku sebagai jawaban bagi Riri. “Bosen Ri ceritainnya lagi, kan kemaren udah lewat line.”
     “Lewat line itu bukan cerita… ngga ada feel-nya sama sekali. Cerita ulang!” bawelnya. Ck… dasar Riri, selalu minta cerita ulang, ngga pernah deh dia anggep orang curhat kalo lewat line. Riri mulai menghujaniku dengan ribuan alasan kenapa dia ingin mendengar ceritaku secara langsung. Selama itu pula, aku tidak mendengarkannya. Semua yang dia bicarakan pasti seputar pentingnya interaksi langsung, rasa simpati dan hal lainnya yang sudah biasa kudengar. Selagi Riri sibuk menjelaskan alasannya, aku sibuk senyum-senyum sendiri. Hanya karena potongan kejadian yang dapat menggelitik hatiku.
--
     “Loh jadi kalian sekosan?” tanyaku bingung dengan cerita ketiga pria di depanku yang saling sambung menyambung.
     “Loh, iya La, kami sekosan, kamu ngga tau?” jawab orang yang berdiri tepat disebelah kananku.
    “Yaiyalah ngga tau, ngapain coba dia kepoin kamu, kurang kerjaan amat ya La?” timpal pria lain yang berdiri selangkah didepanku. Aku hanya tertawa menanggapi pertanyaannya.
     “Kamu kali itumah, Wan. Kalo aku, kamu pasti seneng kepoin,ya kan?” Tanya orang disebelah kananku. Mataku membesar tidak setuju, “Pedeeeeee.” jawabku sambil memukul bahunya keras. Dia hanya tertawa. Tawa menular yang membuatku otomatis ikut tertawa dengannya.
     “Eh, udahlah kalian jangan kepedean semua gitu. Mending kita main kembang api aja, mana tadi kembang apinya?” Tanya Titan, pria satunya. Tiba-tiba semuanya terdiam.
     “AH IYA! Ketinggalan di bawah.” Spontan semua melihat kearah suara dan berteriak, “DREEEEEE!!" Yang diteriaki berbalik dan langsung berlari kearah berlawanan. Irwan dan Titan mengikuti Andre berlari dari belakang dengan semangat. Seolah-olah mereka adalah polisi yang akan menangkap tersangkanya. Selagi mereka berlari, aku hanya bisa tertawa memerhatikan kelucuan ketiga orang itu. Trio yang akhir-akhir ini selalu ada di dekatku dan menghiburku. Dan kebetulan-hanya kebetulan saja kukira-salah satunya adalah tipeku. Tawanya, senyumnya, humornya, hampir semuanya. Orang dengan mata sipit dan senyum manis yang bisa membuatku lupa akan dunia.
--
     “La, ceritain dong tentang doi.” pinta Tia. Aku hanya senyum-senyum sendiri mendengarnya. Bayanganku kembali pada kenangan beberapa malam yang lalu, ketika aku menjadi panitia acara, ketika rapat, ketika aku melihat senyumnya, semuanya.
     Aku sungguh menikmati semua potongan kejadian itu, especially karena dia selalu ada di setiap bayangan yang terlintas di benakku. Dia menarik, dan lucu. Aku senang karena dia selalu ikut tertawa ketika aku tertawa, berjalan ketika aku berjalan, ikut pulang ketika aku pulang. Dia bahkan selalu menanggapiku dengan senyum yang lebar. Ah ya….. dan humornya yang bisa membuatku melupakan masalahku saat itu. Ya, dia. Doi yang Tia tanyakan. Orang yang ‘sepertinya’ sudah menyelamatkanku dari sakit hati pasca putus.
      “Jadi…” bisikku pada Tia.
    “Apa? Apa?” Tanya Tia antusias, Sita datang dan langsung heboh berebut mendengarkan dengan Tia. “Siapa La? Siapa?” Tanya Sita merusuh.
     “Yaaaah Si, kamu mah tau orangnya.” ujarku hampir tidak jadi bercerita. Spontan mata Sita membesar, antusiasnya naik hingga dia bahkan pindah untuk duduk disebelahku. Kedua sahabatku itu terus memohon agar aku menceritakan orang yang berhasil membuatku tersenyum kembali. Akhirnya akupun mengerling pada mereka dan mereka berteriak bahagia. “Jadi……….”
--
     Aku yakin aku tidak memendamnya. Apapun itu namanya, aku mengakui bahwa aku merasakannya. Senyum yang tiba-tiba mengembang ketika dia datang. Kupu-kupu yang beterbangan ketika dia tersenyum. Bahkan terkadang aku menghitung mundur ketika dia beberapa langkah lagi sampai di dekatku. Bodoh? Ya. Tapi entah mengapa aku tidak merasa bodoh saat melakukannya. Entah ini perasaan apa, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Yang kutahu, aku nyaman berada di dekatnya. Yang kutahu, mungkin aku jatuh cinta padanya.
      “Hei, La! Ngapain?” Tanya Andre dari jauh seraya mendekatiku.
   “Bengong ajanih dre, gatau mau ngapain.” jawabku sekenanya. Andre tertawa lalu duduk disebelahku. Kamipun larut dalam obrolan-apapun-itu yang biasa kami lakukan setiap kami bertemu. Aku bercerita apa saja, dan diapun begitu. Hingga pada satu titik aku menyadari sesuatu, “Dre, kamu belum dapet jaketnya ya?”
     Andre melihat dirinya sendiri, lalu melihatku dengan iri. “Iyanih, aku belom dapet. Ngga ada yang bisa dipinjem lagi soalnya.” jawabnya lesu. Kami baru saja dilantik. Adatnya, jika dilantik maka kami harus meminjam jaket dari kating,sebagai bukti bahwa kami sudah dilantik. 
   “Mau coba?” tawarku. Matanya yang sayu langsung melebar dan senyumnya mengembang, Dengan cepat dia mengambil jaket yangada pada tanganku. Aku tersenyum melihatnya. Andre memakainya. Dia terlihat nyaman menggunakan jaketku. Aku membiarkannya menikmati perasaan pertamanya menggunakan jaket sakral kami. Selagi dia ‘menikmati’ waktunya, aku mengobrol dengan Sita. Sita mengerling padaku saat sadar aku meminjamkan jaket pada Andre. Aku hanya mengangkat bahu, seolah berkata itu tidak masalah.
     Tiba-tiba sesuatu jatuh dikepalaku, menutupi sebagian wajahku. Seseorang yang meletakannya dari belakang diam-diam mengelus kepalaku. Sita tiba-tiba heboh didepanku dengan mulut tertutup dan mata yang melotot. Aku meleleh ketika sadar apa yang ada diatas kepalaku. Jaketku. Jaket yang kupinjamkan pada Andre. “Makasih ya La.” ujarnya. Aku tidak bisa merespon apa-apa kecuali mengangkat kedua jempolku keatas. Rasanya sesuatu telah merenggut suaraku.
     Aku terdiam di tempat beberapa saat ketika Sita mulai membuka suaranya dan mengguncang-guncangkan aku, “La….. La…..” bisiknya padaku. Aku yang masih terkejut dengan kejadian barusan hanya bisa mengangguk dengan mata bingung pada Sita. Perutku bergolak dan sesuatu menari-nari di depanku. Sita yang sadar akan ketidakwarasanku langsung menarikku ke kamar.
     Dikamar, Sita menepuk pipiku dan menanyakan kesadaranku. Aku yang sepertinya baru saja sadar akan apa yang terjadi, langsung meloncat gembira. Aku berteriak-teriak seperti orang gila. Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi padaku? Rasanya perutku semakin geli dan senyumku tidak dapat berhenti mengembang.
--
     Aku menyukainya. Ya benar. Senyumnya yang manis dan pembawaannya yang hangat selalu kurindukan. Ia bagaikan mentari yang datang setelah kelamnya malam. Angin yang berhembus ditengah panjangnya gurun. Aku bersyukur betapa aku dipertemukan dengannya tepat setelah aku putus. Dia yang menjauhkanku dari hal tidak berguna yang mungkin saja melandaku.
     Seketika aku terdiam. Tidak bisa. Aku harus berhenti dengan perasaan ini. Dia memang baik. Mungkin terlalu baik bagi jiwaku yang rapuh dan sedang kosong ini. Kebaikan kecil yang dia lakukan bisa saja membuatku terbang ke langit ketujuh. Tapi aku tidak boleh seperti ini. Terkadang seseorang dipertemukan dengan orang lain, hanya sekedar untuk saling bertemu saja, bukan untuk dipersatukan. Aku tidak boleh memupuk perasaan ini lebih dalam lagi.
     Aku membuka daftar nama line dan mencari namanya. Andreas. The fact is: he isn't in the same religion with meAnd he is from Sumatra. Sebenarnya, aku meragukan ini. Masa orang yang ‘katanya’ memiliki kepribadian keras bisa jadi sangat hangat dan semenyenangkan itu? Aku tersenyum kecil, tuhkan aku mulai membelanya lagi. Aku tahu aku tidak boleh melanjutkan perasaan ini ketingkat yang lebih tinggi. Tapi untuk ‘sekedar’ teman, menyukai itu boleh saja kan?
     Wahai hati, bisakah kau sedikit lebih dewasa menghadapi perasaan ini? Mungkin kini Tuhanmu sedang menguji ketaqwaanmu. Jadi, jangan sampai kalah. Dia hanyalah angin, anggap saja begitu. Meskipun mungkin rasanya sakit, percayalah bahwa itu bukan yang tersakit. Jadi, bertahanlah. Suatu saat nanti, kau pasti akan bertemu dengan hati lainnya, dimana selama ini pemilik hati itu selalu memasukkan namamu dalam doanya.
     Ya Tuhanku, terimakasih karena telah Kau tunjukkan padaku ciptaanMu yang sesuai dengan keinginanku, yang dengan mudahnya memasuki hatiku, dan menuliskan namanya di dasar hatiku. Dan aku juga berterimakasih karena telah Kau tunjukkan kenyataannya. Bahwa aku tak mungkin memilikinya. Cukuplah bagiku mengetahui bahwa ada orang seperti dia di bumi ini, menghirup oksigen yang sama denganku dan melihat bintang yang sama denganku. Yah, cukup bagiku.

Memori Kita



Tempat itu. Iya, aku menunggunya di tempat itu. Tempat dimana aku bersama dia saling memadu kasih dulu dan menjadi tempat favorit kala itu. Tempat yang sarat akan kenangan-kenanganku bersama dirinya. Baik duka, suka, tawa dan tangis. Tempat itu istimewa bagiku. Pemandangan seluruh kota terlihat dari tempat itu. Hamparan rumah penduduk dan gedung-gedung tinggi menjadi pemandangan yang indah bagiku dan menjadi lebih indah ketika malam hari.

Es Krim Hujan -- Fania Veronica


            Mungkin kalian pernah melihatnya. Seorang cowok yang terang-terangan menunjukkan rasa suka kepada cewek yang ditaksirnya. Masa tidak jadi masalah. Selalu saja ada cowok yang tidak tahu malu seperti itu. Ada satu di kelasku. Sialnya, akulah cewek malang yang ditaksirnya.
            Sebut saja aku ge-er, tapi aku seratus persen yakin kalau Leo naksir kepadaku. Dua tahun berturut-turut aku sekelas dengannya, gelagatnya kepadaku seperti orang PDKT saja. Mencoba mengobrol denganku, meminjam barangku, merayuku dengan rayuan gombal, ikut-ikutan menyukai hal yang kusuka. Oh, dude, you obviously like me. Tapi aku tidak. Aku tidak menyukai Leo. Bukan benci juga. Aku hanya tidak mau dekat-dekat dengannya.

Payung Merah Maroon



Ku temukan sebuah foto usang di laci meja belajarku. Ku analisa baik-baik foto yang saat ini ku genggam, tapi aku masih lupa tanggal kapan tepatnya foto ini ku potret. Namun, sosok lugu dengan suasana hujan di foto itu mengingatkan ku kembali akan peristiwa bebarapa waktu  yang lalu.
***
            Langit tampak begitu kelam, disusul dengan hembusan angin yang kian menyergap tubuhku, seolah memberi isyarat bahwa sebentar lagi butiran hujan akan jatuh membasahi bumi. Dan ternyata benar, butiran hujan mulai menyentuh kulit ku, hingga membuat gerak langkah ku semakin cepat. Aku tiba di dalam kopaja dengan pakaian sedikit basah, namun kedua bola mataku langsung tertuju ke arah bangku kosong yang hanya tersisa satu-satunya di angkutan umum tersebut, dan dengan segera aku pun menuju ke arah bangku tersebut. Seiring dengan hujan yang kian deras, orang-orang pun juga kian memadati kopaja tersebut, hingga membuat suasananya semakin riuh. Suara mesin mobil bersamaan dengan obrolan para penumpang mulai terdengar beradu dengan derasnya hujan. Tiga puluh menit waktu berlalu, dan aku sudah hampir tiba di tempat tujuan ku yaitu toko buku, namun ku lihat di balik jendela rupanya sang hujan masih terlihat murka.
            kiri bang “ ujar ku nyaring sambil beranjak berdiri
            Suara nyaring yang kumiliki ternyata cukup ampuh untuk mengheningkan suasana bingar di kopaja tersebut, hingga dengan cepat kopaja itu pun langsung berhenti. Dengan sigap aku pun membuka payung yang ku bawa saat hendak turun. Payung tersebut memiliki ukuran yang cukup besar, memang sedikit repot saat membukanya ketika hendak turun, dan mungkin itulah alasan mengapa beberapa penumpang di kopaja tersebut mendadak menatapku.
             Usai aku turun dari angkutan berwarna putih hijau tersebut, aku langsung berjalan sambil tetap berpayungan. Sejenak ku hentikan langkahku di depan halte bus, disitu aku menunggu untuk beberapa saat sampai hujannya reda. Ku tutup payung berwarna merah maroon yang kumiliki dan ku sandarkan payung tersebut di bangku halte, dan selang beberapa menit kemudian tiba-tiba saja sesosok makhluk tuhan di sebrang jalan tertangkap oleh indra penglihatanku, terlihat dia sedang hilir mudik memayungi orang-orang. Jelas sekali tubuhnya kecil dan juga kurus, pakaian yang dikenakannya pun kelonggaran, hingga terlihat hampir menutupi tubuhnya yang mungil,  bahkan dia pun juga tidak memakai alas kaki saat menawarkan jasanya ke orang-orang, dan sosok yang kulihat itu pun juga memiliki payung yang ukurannya cukup besar, mirip seperti punyaku, hanya saja payungnya berwarna hijau tua sedangkan milik ku berwarna merah maroon. Sesaat setelah aku memperhatikannya dari kejauhan, kembali ku tatap langit untuk memastikan bahwa langit tak lagi mendung, dan ternyata benar langit kembali ceria seperti yang ku inginkan, tanpa berfikir panjang aku pun langsung bergegas pergi dari halte tersebut dan langsung menuju ke toko buku, namun saat aku sudah berada di depan pintu toko buku tersebut, entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tertinggal. Sejenak ku perhatikan diriku.
“ astagfirullah.. payungku !! “
            Aku tersadar bahwa payung pemberian nenek ku tertinggal di halte tempat aku berteduh tadi. Dengan sangat terpaksa aku pun harus kembali ke halte tersebut untuk mengambil payung ku. Namun sial, sesampainya aku disana ternyata payung tersebut sudah tidak ada, justru yang ku temukan adalah payung berwarna hijau tua. Dengan raut wajah yang kecewa, aku pun duduk termenung di bangku halte, sambil meratapi payung ku yang hilang bagai ditelan bumi. Sebenarnya kalau saja itu bukan payung pemberian almarhum nenek ku, mungkin aku tak akan sesedih ini, namun sayangnya payung berwarna merah maroon itu adalah kado terakhir dari nenek ku sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir. Bagiku, kehilangan payung tersebut sama saja seperti kehilangan sosok nenek untuk kedua kalinya.
            Ku layangkan mata ku ke langit, terlihat gumpalan awan hitam mulai mengintai dan menyelimuti langit, alam seakan ikut bersedih karena melihat diriku yang sangat terpukul. Tetes demi tetes air mulai menghujami segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini, dan hanya dalam beberapa hitungan detik hujan seakan menampakkan arogansinya, dengan guyuran hujan yang amat deras. Ah.. rinai hujan basahi bumi lagi, dan bersamaan dengan hujan yang kian deras, ternyata butiran air lambat laun  juga mulai mengalir dari kedua bola mata ku. Perlahan ku hapus air mata ku, namun tanpa sengaja mataku kembali tertuju ke arah sebrang jalan. Terlihat sosok lugu yang tadi kulihat saat payungku belum hilang masih kesana kemari memayungi orang-orang yang kehujanan. Jujur, batinku terasa tersayat ketika melihat sosoknya yang harus berjuang untuk mengais rezeki di tengah guyuran hujan yang semakin kejam. Tapi entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ganjil dengan payung miliknya, karena semakin ku perhatikan payungnya, semakin mirip dengan payung milik ku, tapi penglihatan ku tidak begitu jelas karena hujan semakin deras, lalu terfikir olehku untuk memotretnya untuk memastikan bahwa benar payungnya berwarna merah maroon. Ku perbesar foto yang sudah ku ambil tadi, lalu kuamati warna payungnya, dan ternyata benar payung yang ia genggam berwarna merah maroon, sontak saja aku pun langsung berlari ke sebrang jalan untuk mengejarnya. Hujan masih belum berhenti menunjukkan keperrkasaanya, namun aku tak perduli, aku terus berlari mengejarnya, tapi sosoknya yang ku cari tak kutemukan. Aku sedikit lelah dan tubuhku juga basah kuyup, akhirnya dengan wajah yang kecewa aku pun mencari tempat berteduh, ku pilh halte tadi sebagai tempat berteduh ku, namun sasampainya di halte tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang datang menghampiriku
“ Payungnya kak..” sapanya dengan ramah
            Aku sangat terkejut melihat sosok yang ku cari ternyata sudah berdiri persis di hadapanku. Terlihat dengan jelas payung yang ia tawarkan adalah payung pemberian nenek ku, dan tanpa basa basi aku pun merampas payung  tersebut dari genggamannya.
“ Hei.. kamu tau tidak payung berwarna merah maroon yang kamu bawa itu adalah payung milik ku, oh..ya aku tau pasti kamu mencuri payung ini dari halte disana kan? “ jawab ku dengan sangat ketus
Memang sih.. aku sempat ke halte tersebut untuk berteduh, tapi aku tidak mencurinya, lagipula payung ini berwarna hiaju tua !!
“ Kamu buta ya, jelas-jelas payung ini berwrna merah maroon !!
“ Tidak, payung ini berwarna hijau tua  !!   ujarnya dengan tegas
Aku heran mengapa bocah ini mengatakan bahwa payung tersebut berwarna hijau tua, padahal jelas-jelas berwarna merah maroon “ ucap ku dalam hati
            Dan tiba-tiba saja seorang gadis manis berprofesi sama dengannya datang menghampiri ku.
“ Maaf kak, ini ada apa? Kok aku lihat dari sebrang jalan sana, dari tadi kakak sedang berdebat tentang payung ini “ tanyanya padaku
Jadi begini, payung berwarna merah maroon ini adalah payung milik aku, tapi dia mengatakan baahwa payung ini berwarna hijau tua miliknya, padahal jelas sekali warna payung ini merah maroon “ ujar aku menjelaskan
“ Oh begitu ya kak, ehm..sini deh kak aku bisikin sesuatu ”
            Lalu gadis itu pun membisikan sesuatu ke telinga ku, dan dengan suara yang pelan dia menjelaskan bahwa temannya itu buta warna. Setelah mendengar pernyataan tersebut, tiba-tiba saja rasa sesal datang mengusik batin ku. Hatiku semakin teriris karena sudah terlanjur menuduh bocah itu sebagai pencuri payung merah maroon ku, terlebih lagi aku harus melihat kenyataan bahwa anak-anak yang berprofesi sebagai ojek payung seperti mereka terpaksa harus kehilangan masa kecilnya demi bertahan hidup di Ibukota ini.
“ Ehm.. kakak minta maaf ya, karena telah menuduh kamu sebagai pencuri “ ujar aku dengan mata berkaca-kaca
“ Ya kak aku maafin kok “ ujarnya dengan wajah ceria
***
Litha.. kamu sedang apa di dalam? Bisa keluar sebentar tidak untuk bantu mamah?”
“ Oh.. iya mah sebentar “ ujar aku sambil menaruh kembali foto usang tersebut ku ke laci meja belajar ku.

"Puisi Tak berjudul"


Hari itu 'kan datang lagi,
Meleburkan rasa dalam kisah yang seharusnya menyeka dera,
Warna-warni bunga luruh ke tanah,
Terukir… Terlukis…
Menyeka tetes-tetes hujan yang mengiringinya,
Akh, apa artinya...?
Tak mampu ku maknai  jua hingga detik ini,
Hari itu, esok 'kan datang,
Menyapaku dan membawaku dalam melodinya,
Hari itu, ya Hari itu...!
Yang kutemui hanyalah angin yang tak ku tahu kemana arahnya,
Yang kutemui hanyalah lolongan perih,
Semuanya kugenggam erat dalam hatiku,
Hari cerah itu kini menjadi kelam,
Hari cerah itu kini menjadi kelabu,
Terbungkus resahnya pagi mengiringi kepergian Mama,
Entah kemana harus dikemanakan rasa sakit ini,
Tak ada lagi kata,
Bahkan tangisku kini tak dapat melukiskan pedih ini,
Mama…
Mengapa harus Mama...?
Gubuk ini jadi demikian hening,
Tak bergeming,
Tak ada lagi tawa renyah disana,
Tak ada lagi peluk dan cium,
Yang tersisa hanya kebisuan yang membatu...
Aku benci langit,
Aku benci karang,
Aku benci laut,
Aku benci semua yang merebut Mama dari sisi ku,
Bibir boleh berucap rela,
Tapi hatiku sakit untuk mengakuinya,
Terbersit tanya dalam benakku,
Tuhan jahat padaku...!
Mengapa harus Mama...?
Adakah yang dapat menjawabnya untukku...?
MAAF...!
Apa pun jawabmu tak akan ku sambut,
Mungkin kehilangan ini 'kan mencabikku,
Tapi apa peduliku...?
Kini...
Aku memiliki kehilangan setelah kehilangan itu kumiliki...!
Selamat Jalan Mama,
Mama Terkuat didunia Kami,
Tinggallah Aku mengais asa di tengah gejolak,
Mengukir asa pada garis-garis kehidupan,
Ini untukmu Mama,
Ini puisi… 
Puisi Tak Berjudul…

Lagu Seporsi Rasa

Lirik Lagu Seporsi Rasa

Ini kisahku Seporsi Rasa
Kisah kasihku di Kedai Cinta
Aku dan dia berbagi kisah
Kisah kasih yang kuungkapkan

Seporsi Rasa kisah cintaku
Cinta semangkuk es kacang merah
Berbagai rasa bersatu padu
Memadukan kisah cintaku dan dia

I love you... kuungkapkan cintaku
I love you too.. kumendengar jawabnya
Ini kisahku Seporsi Rasa
Kisah cintaku Seporsi Rasa

see on youtube https://www.youtube.com/watch?v=_xEakahDCRQ

Seporsi Rasa di RRI Pro 1

Pradita Seti Rahayu (editor), Yunita, Selly Miarani, Yudi (penyiar)

Sabtu, 3 January 2015 pertama kalinya Seporsi Rasa siaran di RRI Pro 1 Cakrawala Pustaka. Kalau kata Mas Yudi (penyiar) Seporsi Rasa merupakan buku pertama yang dipromosikan di Cakrawala Pustaka. Hehehe *jadi tersajung*

Foto Ulang Tahun Cerita Penulis

Yunita, Dwi Agustina, Rinay Nurullah, Anisyah, Selly Miarani
saat merayakan ulang tahun Komunitas Cerita Penulis ke-1 di Mall Citraland Jakarta

Awalnya, Cerita Penulis hanya berkomunikasi via media sosial seperti blog ini, twitter @cerita_penulis, FB Komunitas Cerita Penulis, Fanpage, grup dllnya. Tapi seiring berjalannya waktu kami memutuskan untuk berkumpul bersama. Dan, pada Sabtu, 30 Agustus 2014 lalu kami berkumpul di salah satu foodcourt Mall Citraland. Sekaligus merayakan ulang tahun Cerita Penulis yang ke-1 (18 Juli 2013)

Qiera, Soul In The Sword



Qiera, Soul In The Sword

2
Keranjang Makanan, Obat, dan Keselamatan

 “Hai Tago, mengapa kalian tutup sepagi ini? Apakah kakek Han sakit?” Tanya seorang gadis dengan nada yang lembut. Dia adalah penjaga kedai makanan yang ada di seberang rumah tempa mereka.
Pada saat itu memang masih sangat dini untuk menutup rumah tempa karena jarum jam belum menunjukan jam istirahat makan siang.
          “Tidak, kakek Han sehat saja” “dia hanya butuh bantuan dengan pompa tuanya yang sudah macet itu” jelas Tago berbohong dengan sedikit guyonannya.
          “Oo.. kalau begitu tunggu sebentar akan kuambilkan sesuatu untuk kalian berdua” dengan terburu-buru gadis itu masuk ke kedainya. Tak beberapa lama dia sudah membawa keranjang dengan ditutup serbet kotak – kotak merah. cukup banyak makanan yang ditaruh didalamnya.
          “Ini untuk makan siang, kuharap cukup untuk kalian berdua” ucap gadis itu sambil memberikan keranjang penuh makanan. Terlihat dari pipinya yang memerah saat memberikan keranjang kepada Tago, gadis ini sepertinya terkena sihir wajah Tago yang mempesona itu.
          “Wah, sepertinya ini terlalu banyak untuk kami, terima kasih”
          “Maaf, aku harus buru-buru, kakek tua butuh bantuanku, sekali lagi terima kasih Demy” kata Tago sambil bergegas  meninggalkan gadis itu menuju lantai bawah menemui kakek Han.
Tanpa menurunkan kedua lengannya gadis itu seketika terpatung setelah mendapatkan ucapan terima kasih dari Tago. Ucapan yang sangat manis menurut gadis yang diketahui bernama Demy itu, yang selama ini hanya bisa memberi makan siang dan melihat pangerannya itu dari seberang jalan lewat jendela kedainya.

Share It